Harga Minyak Dunia Melemah Terseret Kenaikan Stok BBM AS

CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 07:28 WIB
Harga Minyak Dunia Melemah Terseret Kenaikan Stok BBM AS Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia terseret lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (17/7), waktu setempat. Pelemahan terjadi menyusul data pemerintah AS yang menunjukkan kenaikan pada stok produk kilang.

Dilansir dari Reuters, Kamis (18/7), harga minyak mentah berjangka Brent melemah US$0,69 atau 1,1 persen menjadi US$63,66 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,84 atau 1,5 persen menjadi US$56,78 per barel. Sehari sebelumnya, kedua harga acuan itu merosot lebih dari 3 persen.


Badan Administrasi Informasi Energi AS mencatat penurunan stok minyak mentah AS sebesar 3,1 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan yang sebesar 2,7 juta barel.


Namun, kenaikan stok produk kilang menekan harga lebih rendah. Stok bensin menanjak 3,6 juta barel atau di atas ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 925 ribu barel.

Stok minyak distilasi juga menanjak 5,7 juta barel, berkebalikan dengan perkiraan analis yang berekspektasi terjadi penurunan sebesar 613 ribu barel.

"Faktanya stok produk minyak yang meningkat tajam merupakan cerminan dari permintaan yang melemah ," ujar Analis Perminyakan Carsten Fritsch.

Produksi minyak mentah di AS pekan lalu terganggu oleh Badai Tropis Barry. Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS menyatakan lebih dari separuh produksi minyak mentah harian Teluk Meksiko tetap terhenti hingga Selasa (16/7). Pasalnya, perusahaan masih dalam proses mengembalikan pekerja ke fasilitas produksi untuk memulai produksi kembali.

Regulator pengeboran AS menyatakan sekitar 1,1 juta barel per hari (bph) atau 58 persen dari produksi kawasan tetap terhenti.


Pada Selasa (16/7) lalu, harga minyak mentah merosot akibat ekspektasi kembalinya produksi minyak mentah Iran ke pasar global. Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sudah ada progres dengan Teheran yang menjadi sinyal kemungkinan meredanya tensi di Timur Tengah.

Namun, Iran membantah telah berkeinginan untuk bernegosiasi soal program peluru kendalinya yang berlawanan dengan pernyataan Trump.

"Sulit dipercaya sikap AS dan Iran akan berubah secara drastis karenanya aksi jual kemarin mungkin dapat berubah menjadi kesempatan untuk membeli yang sempurna," ujar Analis PVM.

Pemerintah AS menyatakan mereka tidak yakin apakah kapal tanker minyak yang berada di perairan Iran disandera oleh Iran atau diselamatkan setelah mengalami kesalahan teknis sesuai pernyataan Iran. Hal itu menimbulkan kebingungan di tengah panasnya tensi di kawasan Teluk. (sfr/agi)