Rupiah Menguat ke Pasca BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 16:43 WIB
Rupiah Menguat ke Pasca BI Turunkan Suku Bunga Acuan Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.960 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (18/7) sore. Dengan demikian, maka rupiah menguat 0,16 persen dibandingkan penutupan Rabu (17/7) yakni Rp13.982 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.976 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp13.949 per dolar AS. Pada hari ini rupiah berada di dalam rentang Rp13.925 per dolar AS hingga Rp13.981 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,1 persen, baht Thailand menguat 0,11 persen, yen Jepang menguat 0,19 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,23 persen.


Namun di sisi lain, peso Filipina melemah 0,02 persen, dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, yuan China melemah 0,03 persen, dan rupee India melemah 0,09 persen terhadap dolar AS.


Sementara itu, mata uang negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,13 persen, dolar Australia menguat 0,36 persen, dan poundsterling Inggris menguat 0,4 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah didukung faktor domestik dan eksternal. Untuk faktor domestik, penurunan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin (bps) dipandang sebagai sentimen positif mengingat fundamental makroekonomi Indonesia masih baik meski ada tekanan dari sisi global.

"Ini pun mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah prospek pertumbuhan global yang sedang turun," jelas Ibrahim, Kamis (18/7).

Kemudian, dari sisi eksternal, sentimen positif datang dari pernyataan International Monetary Fund (IMF) bahwa harga dolar AS lebih mahal 6 persen hingga 12 persen dibanding harga sesuai fundamental ekonomi seharusnya. Kondisi ini sempat menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah AS turun dan membuat investor menjauhi dolar AS.

[Gambas:Video CNN]

"Kekhawatiran tentang konflik perdagangan AS-China yang belum terselesaikan juga disebut sebagai katalis untuk penjualan (dolar AS)," papar dia. (lav/lav)