Menurut dia, pelemahan sejumlah indikator di dalam negeri tak terlepas dari gejolak ekonomi global. Terutama, sejak bank sentral AS, The Fed, mengetatkan kebijakan moneternya dengan mengerek suku bunga acuan. Hal itu kemudian direspons Bank Indonesia (BI).
Akibatnya, pertumbuhan kredit pada enam bulan pertama tahun ini agak tertahan, meskipun masih lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan pada semester I meningkat 9,92 persen secara tahunan atau melambat dibanding tahun lalu, yakni 10,75 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Percuma Ekonomi Tumbuh Kalau Kemakmuran Semu |
Menurut dia, PPh badan dihitung dari basis keuntungan perusahaan. Jika setoran pajaknya menurun, artinya laba dunia usaha tengah seret.
"Company (perusahaan) ini setoran pajaknya berdasarkan proyeksi keuntungan, tapi beberapa orang mengatakan kepada saya, 'bu, tahun ini lebih berat'. Dan itu terlihat across the board," imbuh dia.
Lihat juga:BI Akui Laju Ekonomi Indonesia Melambat |
Presiden Joko Widodo, seperti disampaikan Sri Mulyani kerap memintanya untuk mendesain postur belanja di dalam APBN yang bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Jangan heran jika tahun ini pemerintah fokus mengalokasikan anggaran, seperti bantuan sosial.
Di tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran bansos sebesar Rp97,06 triliun atau tumbuh 25,63 persen dari tahun lalu, yakni Rp77,26 triliun.
"Hingga pertengahan tahun, growth (pertumbuhan) masih menunjukkan momentum positif, meski semuanya terlihat melemah, jadi kami harus lakukan reformasi secara internal," tandas dia.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)