Faisal menggunakan pendekatan rasio penambahan modal terhadap pertumbuhan ekonomi (Incremental Capital Output Ratio/ICOR) untuk melihat efisiensi investasi suatu negara. Rasio ini mencerminkan seberapa besar tambahan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
Semakin rendah ICOR, semakin tinggi efisiensi investasinya. Sebaliknya, semakin tinggi ICOR, investasi yang dilakukan semakin tidak efisien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua perhitungan tersebut di atas ICOR Indonesia di era Orde Baru yang hanya berkisar 4 hingga 4,5.
"Jadi, besar sekali tambahan modal untuk menambah 1 unit output (sekarang), 50 persen lebih besar dari orde baru," katanya.
Lihat juga:Percuma Ekonomi Tumbuh Kalau Kemakmuran Semu |
Investasi yang mubazir itu bisa dilihat oleh masyarakat. Faisal mencontohkan okupansi kereta api ringan (LRT) Palembang dan Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang rendah.
Kemudian, pembangunan jalan layang non tol Ciledug-Tendean yang hanya bisa dilintasi oleh bus Transjakarta, pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dan tol laut. Padahal, proyek-proyek tersebut memakan anggaran triliunan.
Menurut Faisal, rendahnya efisiensi investasi tak lepas dari perencanaan yang buruk. Pemerintah kerap main tunjuk ke perusahaan pelat merah untuk menjalankan suatu proyek infrastruktur. Padahal, proyek itu belum tentu masuk perencanaan Bappenas.
Salah satu proyek yang menurut Faisal berhasil adalah MRT Jakarta. Sebab, manajemen proyeknya baik dan pelaksanaannya diawasi dengan ketat.
Pemerintah, sambung ia, bisa menurunkan ICOR. Salah satu solusi jangka pendek yang dapat dilakukan adalah menggelar tender proyek secara terbuka, tanpa penunjukkan. Dengan demikian, kontraktor yang berminat akan bersaing secara sehat dan berlomba membuat kajian proyek dengan harga yang terbaik.
"Kalau sekarang (ICOR) 6,2 persen dan dalam 5 tahun ke depan bisa diturunkan hingga 5,5 persen saja itu sudah hebat," jelas Faisal.
[Gambas:Video CNN] (sfr)