Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berpotensi melebar ke negara-negara lain yang menjadi hub ekspor China ke AS. Jika melebar, ekspor negara-negara hub tersebut ikut keok.
Apabila pertumbuhan ekspor global kian melemah, pertumbuhan ekonomi global pun ikut terseret. Kinerja ekonomi global yang melemah tentu membuat permintaan barang-barang ekspor Indonesia kian lunglai, sehingga neraca perdagangan Indonesia defisit. Adapun, neraca perdagangan adalah satu dari dua komponen pembentuk transaksi berjalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:AS-China Kembali Meriung Bahas Perang Dagang |
Namun, terlepas dari risiko perang dagang, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini mengatakan arus modal masuk (capital inflow) diharapkan masih baik dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Pertama, berkurangnya ketidakpastian pasar keuangan global seiring pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan negara-negara maju.
Kedua, imbal hasil portfolio Indonesia masih dianggap kompetitif dengan risiko investasi yang kian berkurang. Hal ini tercermin dalam angka Credit Default Swap (CDS) yang saat ini di angka 77 atau melandai dari akhir Mei lalu yang sempat menyentuh 112.
Lihat juga:Membaca Tanda-tanda Ekonomi Lesu |
"Kemudian, membaiknya persepsi dan prospek ekonomi di Indonesia juga dipandang kian membaik dengan perbaikan sovereign rating lewat S&P dan perkembangan sektor riil pasca pemilu," tutur dia.
Bank Indonesia sebelumnya mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal I lalu di angka 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melebar dibandingkan kuartal I 2018 yang sebesar 1,99 persen dari PDB.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav/sfr)