FishOn merupakan aplikasi karya anak bangsa yang dapat membantu nelayan untuk mengetahui posisi ikan di laut dan melelangnya secara daring (online). Deteksi posisi ikan bisa dilakukan dengan memasukkan sejumlah data seperti migrasi phytoplankton, arah ombak, serta citra satelit.
Dalam hal ini, pengelola FishOn mengaku mendukung Program Satu Juta Nelayan Berdaulat yang diusung pemerintah, khususnya Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Kabupaten Sukabumi menjadi proyek percontohan (pilot project) atas program tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fajar mengakui aplikasi FishOn masih terbilang 'ribet' saat proses registrasi. Pasalnya, nelayan diwajibkan untuk memasukkan foto Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan bukti identitas lainnya.
"Karena memang untuk kebutuhan pembuatan rekening bank (fishPay) diwajibkan foto KTP dan segala macam. Tapi mereka dibantu petugas kami yang di gerai," ujar Fajar.
"Kalau pengoperasiannya sih mudah," imbuh dia.
Sejauh ini, sambung Fajar, lebih dari 200 nelayan di Desa Ciwaru sudah mengunduh FishOn. Namun, jika digabungkan dengan nelayan di tempat lain jumlahnya sebanyak 415 orang.
"Ada dari lampung sekitar 50-an nelayan, sisanya di Sukabumi. Di Lampung tapi belum dirilis ya, rencana rilis pada Agustus," terang Fajar.
Ia berharap jumlah nelayan yang memanfaatkan FishOn bertambah setiap harinya. Pasalnya, hal ini akan membantu nelayan mengantongi pendapatan lebih tinggi dari sebelumnya.
"Jadi dengan TPI online, kami tidak membiarkan mekanisme terjadi begitu saja. Kami intervensi dengan menjadi pembeli siaga (standby buyer). Tujuannya agar harga tidak terlalu jatuh," jelasnya.
Sebagai contoh, setiap pagi manajemen FishOn akan memasukkan harga untuk sejumlah ikan hasil tangkapan nelayan. Untuk ikan tongkol misalnya, FishOn memasang harga di angka Rp7 ribu, sehingga bila pedagang lokal atau tengkulak ingin mendapatkan ikan itu harus membelinya di atas Rp7 ribu.
"Artinya pedagang lokal kalau mau menang lelang harus membeli atau memasang angka lebih dari yang kami sodorkan," tutur Fajar.
Ia menargetkan pendapatan bersih nelayan yang ikut dalam program ini bisa terkerek menjadi Rp4 juta per bulannya dalam satu tahun pertama. Kemudian, tahun kedua naik menjadi Rp8 juta per bulan.
[Gambas:Video CNN] (aud/lav)