Pertumbuhan Ekonomi Tekan Rupiah ke Rp14.268 per Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 05/08/2019 16:42 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Tekan Rupiah ke Rp14.268 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah anjlok ke posisi Rp14.268 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (5/8) sore. Posisi tersebut melemah 0,58 persen dibandingkan penutupan Jumat (2/8) yang di Rp14.185 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.231 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.203 per dolar AS.

Hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong melemah 0,07 persen, baht Thailand melemah 0,19 persen, dolar Singapura melemah 0,33 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,47 persen.


Sementara itu, peso Filipina melemah 0,85 persen, rupee India melemah 1,26 persen, yuan China melemah 1,36 persen, dan won Korea Selatan melemah 1,48 persen. Di kawasan Asia hanya yen Jepang yang menguat dengan nilai 0,54 persen.

Di sisi lain, pergerakan mata uang negara maju bervariasi. Euro menguat 0,29 persen, namun poundsterling Inggris melemah 0,28 persen dan dolar Australia melemah 0,64 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah hari ini ditekan oleh sentimen global dan internal. Dari sisi global, sikap Presiden AS Donald Trump yang akan mengenakan bea masuk tambahan sebesar 10 persen bagi produk impor senilai US$300 miliar masih memukul rupiah.

Apalagi, Trump sempat mengatakan bea masuk itu bisa saja naik menjadi 25 persen.

"China berjanji pada Jumat untuk melawan kembali keputusan tiba-tiba Trump, sebuah langkah yang mengakhiri gencatan senjata perdagangan selama sebulan," jelas Ibrahim, Senin (5/8).

[Gambas:Video CNN]
Dari dalam negeri, tekanan datang dari rilis data pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di angka 5,05 persen atau lebih rendah dibanding tahun lalu yakni 5,27 persen.

Padahal, seharusnya momentum pertumbuhan terjadi di kuartal II karena ada helatan pemilihan umum dan ramadan yang harusnya mendongkrak konsumsi. "Tapi angka 5,05 persen ini masih sesuai dengan ekspektasi pasar," jelas dia. (glh/agt)