Perang Dagang Memanas, BI Intervensi Stabilisasi Rupiah

CNN Indonesia | Jumat, 02/08/2019 15:14 WIB
Perang Dagang Memanas, BI Intervensi Stabilisasi Rupiah Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengklaim sudah melakukan tiga intervensi di pasar spot, pasar obligasi, dan Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF) pada Jumat (2/8) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Mata uang Garuda itu tertekan cukup dalam, setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait tambahan tarif impor barang China.

Sekadar gambaran, pagi tadi, rupiah diperdagangkan di posisi Rp14.116 per dolar AS. Rupiah melemah 0,55 persen dibanding penutupan hari sebelumnya, Rp14.194. Lalu, pukul 14.30 WIB hari ini, rupiah terperosok makin dalam ke posisi Rp14.210, turun 0,67 persen.

"Kami sudah intervensi di spot, pasar obligasi, dan DNDF," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah, seperti dilansir Antara, Jumat (2/8).

Pernyataan tersebut sekaligus untuk mengantisipasi depresiasi rupiah pada perdagangan akhir pekan.

Di kurs tengah BI, kurs rupiah tertekan hingga Rp14.203 per dolar AS atau level terlemah sejak 20 Juni 2019.

Kendati demikian, Nanang menyebutkan pelemahan rupiah ini hanya sementara karena sentimen pelaku pasar menyikapi pernyataan Presiden Trump.

"Depresiasi timbul di pasar, tapi ini hanya sementara, setelah rencana Trump memberlakukan tarif baru dalam perdagangan dengan China," tambahnya.

Sebelumnya, Donald Trump, Presiden AS melontarkan cuitan di media sosial Twitter bahwa pihaknya akan memberlakukan tarif baru pada impor barang-barang China, yang dia sebut sebagai upaya melindungi ekonomi AS dari risiko kebijakan perdagangan global.
[Gambas:Video CNN]
Ancaman Trump tersebut cukup mengejutkan karena delegasi pemerintah AS baru saja kembali dari negosiasi dagang di Shanghai, China, yang dinilai pasar sebagai perundingan yang cukup konstruktif. Namun, pernyataan Trump membuat tensi konflik dagang kembali meningkat.

Dalam serangkaian cuitannya Trump mengatakan ia akan mengenakan tarif 10 persen pada US$300 miliar impor China mulai 1 September 2019. Ia merasa tidak puas dengan proses negosiasi perdagangan antara kedua negara adidaya yang selama ini dipandang pasar akan menghasilkan dampak positif.

Padahal sebelumnya, AS sudah mengenakan tarif 25 persen pada 250 miliar dolar AS impor China yang bertujuan untuk menekan ekonomi terbesar kedua dunia itu. Pengenaan tarif itu juga dinilai sebagai gertakan AS agar China menyepakati kesepakatan perdagangan yang sedang dirancang.


(bir)