Sebelumnya, HBA diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6.322 kcal per kilogram GAR.
"Kenaikan HBA Agustus 2019 menjadi sebesar US$72,67 per ton dari sebelumnya sebesar US$71,92 per ton sebenarnya merupakan konsolidasi pasar setelah penurunan HBA yang cukup signifikan pada bulan sebelumnya (-11,7 persen)," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Agung Pribadi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, harga batu bara juga kena imbas dari dampak perang dagang China dan Amerika Serikat (AS) yang menekan perekonomian global.
"Selain itu, ada sedikit peningkatan permintaan dari Korea," ujarnya.
Di sisi lain, sambungnya, pasokan batu bara dari Australia agak terkendala dengan terganggunya pasokan dari 2 atau 3 tambang dari Queensland.
"Kalau melihat tren tahun lalu, di awal kuartal III harga menguat. Kemudian, di akhir kuartal III lanjut kuartal IV harga turun terus," jelasnya.
Karenanya, perusahaan batu bara masih melanjutkan upaya efisiensi untuk menjaga kinerja keuangan.
"Iya (masih efisiensi) karena masih ada kekhawatiran faktor ketidakpastian di China khususnya di kuartal IV ini," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr)