Bisnis Multifinance Semester I Mandek

CNN Indonesia | Kamis, 08/08/2019 20:44 WIB
Bisnis Multifinance Semester I Mandek Ilustrasi. (REUTERS/Toru Hanai/Files).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisnis perusahaan pembiayaan (multifinance) pada semester pertama tahun ini tercatat stagnan. Pembiayaan yang dikucurkan tumbuh tipis 4 persen, yaitu dari Rp427,32 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi sebesar Rp445,64 triliun hingga Juni 2019.

Berdasarkan Statistik Lembaga Pembiayaan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri multifinance mengucurkan pembiayaan investasi sebesar Rp135,25 triliun. Lalu, pembiayaan modal kerja Rp24,44 triliun, dan pembiayaan multiguna Rp268,66 triliun.

Selain itu, pembiayaan berbasis syariah tercatat sebesar Rp17,15 triliun per Juni 2019. Pembiayaan syariah ini satu-satuya bisnis multifinance yang tercatat turun, yakni 28,1 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp23,88 triliun.

Dari sisi objek pembiayaan, di antaranya Rp123,71 triliun mengalir ke barang produktif, seperti alat berat. Kemudian, Rp15,63 triliun mengalir ke barang infrastruktur, dan terbesar masih mengalir ke barang konsumsi sebesar Rp310,52 triliun.

Barang-barang konsumsi tersebut, antara lain pembiayaan kendaraan bermotor roda dua baru dan bekas, roda empat baru dan bekas, rumah tinggal, alat-alat rumah tangga non-elektronik, termasuk barang-barang elektronik. Sedang sisanya mengalir ke pembiayaan jasa.

Bisnis pembiayaan memang tak banyak bergerak pada paruh pertama, namun perolehan laba multifinance mengilap hingga 16 persen pada semester I 2019 menjadi Rp8,95 triliun. Laba bersih meningkat lantaran pendapatannya tumbuh lebih kencang ketimbang bebannya.

Selain itu, kualitas pembiayaan juga membaik. Pada semester I 2018, rasio pembiayaan macet (Nonperforming Finance/NPF) berada di posisi 3,15 persen. Sementara, saat ini, NPF berada di posisi 2,82 persen. Jika NPF membaik, maka pencadangan multifinance menurun.


(bir)