Arus Modal Asing Masuk Capai Rp179,6 T pada Awal Agustus

CNN Indonesia | Jumat, 09/08/2019 19:03 WIB
Arus Modal Asing Masuk Capai Rp179,6 T pada Awal Agustus Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut aliran modal asing masuk bersih secara tahun kalender (year to date) hingga 8 Agustus mencapai Rp179,6 triliun. Angka ini meningkat Rp9,6 triliun dibanding periode sama bulan sebelumnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo merinci aliran modal masuk tersebut terdiri atas transaksi Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp113,7 triliun, atau 63,3 persen dari total aliran masuk asing. Sementara itu, aliran modal sebanyak Rp65,9 triliun, atau 36,7 persen, berasal dari transaksi saham.

"Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa masih ada confident terhadap prospek ekonomi Indonesia," jelas Perry di Gedung BI, Jumat (9/8).


Ia mengatakan seharusnya aliran modal masuk ini bisa memperbanyak suplai valuta asing, sehingga bisa menjadi faktor fundamental bagi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Hanya saja, nilai tukar AS beberapa waktu terakhir harus melemah karena faktor teknikal. Selain teknikal, pelemahan juga dipicu konflik dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) yang tak kunjung selesai.

Bahkan, perang dagang bertambah parah setelah AS berencana menambah tarif bea masuk 10 persen bagi impor China senilai US$300 miliar dan dibalas Negeri Tirai Bambu dengan devaluasi yuan.

"Hal ini memang membuat outflow, tapi itu hal yang biasa. Justru dari catatan kami, investor yang memang berinvestasi jangka panjang ini menambah outflow," jelas dia.

[Gambas:Video CNN]
Karena ada risiko eksternal, Perry mengatakan bahwa skor Credit Sefault Swap (CDS) Indonesia kini menempati angka 93. Padahal, skor CDS Indonesia sempat menyentuh angka 80 pada bulan lalu.

Adapun, CDS adalah indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN. Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya, jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga makin rendah.

"Tapi CDS ini setidaknya lebih baik dari negara-negara yang satu peer dengan Indonesia," pungkas Perry.

(glh/agt)