Peso Argentina Terpuruk, Terseret Kekalahan Mauricio Macri

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 11:00 WIB
Peso Argentina Terpuruk, Terseret Kekalahan Mauricio Macri Ilustrasi. (Istockphoto/EAQ).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar peso Argentina terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian terjerembap pada Selasa (14/8) waktu setempat. Hal itu menjadi buntut dari kekalahan presiden petahana Mauricio Macri melawan Alberto Fernandez pada pemilu pendahuluan (primary electionArgentina pada Minggu (11/8).

Dikutip dari AFP, peso ditutup melemah 1,77 persen pada perdagangan Selasa (14/8), setelah sehari sebelumnya anjlok 18,76 persen terhadap dolar AS. Pelemahan bisa ditahan berkat intervensi bank sentral Argentina (BCRA) usai peso terjungkal 3 persen di pertengahan sesi.

Walhasil, kini peso ditutup di level 58,33 peso per dolar AS, atau melemah dibanding kemarin yakni 57,3 peso per dolar AS.


Sebenarnya, pemilihan presiden di negeri tango itu baru akan dilakukan pada Oktober mendatang. Namun, kekalahan Macri di pemilu pendahuluan membuat pelaku pasar khawatir. Pasalnya, Macri merupakan sosok pro bisnis sedangkan Fernandez cenderung lebih sosialis.

Sejatinya, popularitas Macri sudah anjlok setelah Argentina mengalami krisis mata uang tahun lalu, di mana nilai tukar peso sempat anjlok 50 persen dari nilai tukar sebelumnya.

Kemudian, Macri juga dikritik karena melakukan kebijakan pengetatan anggaran yang mengecewakan rakyat Argentina karena daya belinya ikut tergerus. Kebijakan ini berujung pada penarikan dana bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar US$56 miliar, yang dinilai analis harus segera direstrukturisasi.

Di dalam laporannya, Capital Economics mengatakan restrukturisasi harus menjadi syarat bagi Argentina sebelum mendapatkan tahapan akhir pinjaman itu sebesar US$7,6 miliar yang akan meluncur pada 15 September 2019 mendatang.

"Dengan kemenangan Fernandez, maka gagal bayar utang tersebut kemungkinan bisa saja terjadi. Dengan rasio utang yang meledak dua tahun terakhir, seharusnya ada kesempatan bagi IMF untuk merestrukturisasi utang tersebut," jelas Capital Economics di dalam laporannya.
[Gambas:Video CNN]
Di sisi lain, kecenderungan Argentina ke politik sayap kiri membangkitkan ketakutan pasar akan kemungkinan terjadinya gagal bayar utang seperti 2001 lalu. Sebab, 80 persen dari utang Argentina menggunakan denominasi mata uang asing.

"Sementara itu, depresiasi mata uang yang akut mempengaruhi kemampuan bayar utang Argentina," ujar analis UBS Global Wealth Management Alejo Czerwonko.

Di sisi lain, pasar saham Argentina perlahan pulih. Pada Selasa (13/8) kemarin, indeks saham Buenos Aires terkerek 10,22 persen, setelah anjlok 38 persen di awal pekan.
(glh/sfr)