Trump Tunda Tarif Impor China, Dolar Anjlok Jadi Rp14.245

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 16:40 WIB
Trump Tunda Tarif Impor China, Dolar Anjlok Jadi Rp14.245 Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --
Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.245 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (14/8) sore. Rupiah menguat 0,56 persen dibandingkan penutupan pada Selasa (13/8), Rp14.282 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.234 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.283 per dolar AS. Pada hari ini, kurs rupiah bergerak di rentang Rp14.220 hingga Rp14.253 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menekuk dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, peso Filipina 0,02 persen, rupee India 0,18 persen, dan ringgit Malaysia 0,21 persen. Kemudian, yen Jepang menguat 0,34 persen, yuan China 0,38 persen, dan won Korea Selatan 0,77 persen.


Namun, terdapat pula mata uang yang melemah seperti baht Thailand sebesar 0,06 persen dan dolar Singapura 0,19 persen.
Sementara itu, mata uang negara maju cenderung menguat dibandingkan dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,1 persen dan euro 0,08 persen. Kendati demikian, dolar Australia melemah 0,39 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah mendapat angin segar setelah Presiden AS Donald Trump menunda pemberlakuan tarif 10 persen untuk impor asal China seperti ponsel, laptop, dan barang konsumsi. Hal ini diharapkan tidak mengurangi minat konsumsi masyarakat AS.

"Meski begitu, banyak investor dan analis yang telah mengurangi harapannya bahwa kedua negara mencapai resolusi dalam waktu dekat," jelas Ibrahim, Rabu (14/8).

Dengan demikian, ia menaksir sentimen perang dagang ini akan memberi dampak sementara bagi rupiah selama belum ada solusi nyata dari kedua belah negara.

"Penangguhan sementara dalam perang perdagangan mendukung penguatan mata uang rupiah tetapi kemungkinan optimisme sudah memudar karena tidak ada solusi cepat untuk pertikaian perdagangan yang telah mengancam pertumbuhan ekonomi global," ungkap dia.
(glh/sfr)