Jokowi mengatakan saat ini pasar domestik sebenarnya memberikan ruang besar bagi para merek lokal. Maklum, Indonesia memiliki populasi penduduk mencapai 260 juta orang.
Meskipun besar menurutnya, pasar Indonesia saat ini justru banyak dibanjiri produk dan merek asing. Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih memilih produk asing untuk kebutuhan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati tidak ingin pasar Indonesia dikuasai asing, namun kepala negara mengklaim pernyataannya ini tidak berarti bahwa negara ini menerapkan kebijakan proteksionisme. Kebijakan tersebut saat ini tengah diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.
"Kami tidak mau proteksi, pasar kami terbuka, tapi ini musimnya perang dagang, mestinya ada strategi agar barang impor tidak membanjiri Indonesia. Pasar besar seperti ini kok dibiarkan kosong dan diisi orang lain? Jangan dong," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Lebih lanjut ia memastikan ada banyak merek lokal yang berkualitas baik dan tak kalah bersaing dengan asing. Merek tersebut antara lain, JCO, Mustika Ratu, Sari Ayu, Wardah, Sari Ratu, dan lainnya.
Karena adanya daya saing , merek-merek tersebut bisa diakui di sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. "Di sini ada Mayora? Itu produknya sudah mengisi 60 persen masuk ke Filipina, seperti Permen Kopiko, Kopi Torabika. Jadi kalau ada Sari Ratu, itu taruh di (bagian) depan (mal), JCO taruh di depan, jangan dibalik-balik," katanya.
Tak hanya meminta pemilik mal untuk memberikan akses ruang lebih besar kepada merek lokal, Jokowi juga meminta agar mal memberikan tarif sewa yang lebih rendah kepada merek lokal. Tujuannya, agar meningkatkan daya saing merek lokal.
Sebab, sepengetahuan Jokowi, Singapura, Hong Kong, dan Thailand memberlakukan biaya sewa yang lebih murah. "Tarif mal mereka sifatnya strategis dan itu dikuasai separuhnya, diisi dengan merek-merek kita (Indonesia)," tuturnya.