Defisit Juli 2019, terutama disebabkan oleh neraca minyak yang negatif. Neraca minyak mentah tercatat minus US$304,4 juta dan hasil minyak Us$687,2 juta. Walhasil, neraca dagang sektor migas pada Juli lalu tercatat defisit US$142,4 juta, berbanding terbalik dengan sektor nonmigas yang surplus US$78,9 juta.
Namun, kinerja perdagangan bulan lalu masih jauh lebih baik ketimbang Juli 2018 yang mencatat defisit sampai US$2,03 miliar. Sementara secara akumulasi, neraca perdagangan sepanjang Januari-Juli 2019 mencatat defisit US$1,9 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara ekspor nonmigas naik 25,33 persen menjadi US$13,84 miliar pada bulan yang sama. Kinerja ekspor nonmigas ditopang oleh peningkatan ekspor pertanian sebesar 50,16 persen menjadi US$310 juta, industri pengolahan naik 27,47 persen menjadi US$11,51 miliar, serta pertambangan dan lainnya tumbuh 11,78 persen menjadi US$2,02 miliar.
"Peningkatan ekspor terjadi pada ekspor tanaman obat, aromatik, rumput laut, biji kakao, sarang burung, cengkeh, tekstil, kendaraan bermotor, bubur kertas, peralatan listrik, serta batu bara, liknit, bijih tembaga, dan lainnya," terangnya.
Sementara secara kumulatif Januari-Juli 2019, nilai ekspor sebesar US$95,79 miliar. Kinerja ini menurun sekitar 8,02 persen dari US$104,14 miliar pada Januari-Juli 2018.
Rinciannya, ekspor migas turun 21,77 persen menjadi US$7,72 miliar, pertanian turun 0,16 persen menjadi US$1,88 miliar, industri pengolahan terkoreksi 4,28 persen menjadi US$71,67 miliar, serta tambang dan lainnya merosot 17,09 persen menjadi US$14,53 miliar.
"Terlihat ada penurunan sumbangan ekspor nonmigas. Biasanya mencapai 91 persen sampai 92 persen dari total ekspor, pada bulan lalu hanya 89 persen. Selain itu, memang ada penurunan ekspor ke semua negara tujuan," katanya.
Lebih rinci, peningkatan impor nonmigas terjadi pada barang konsumsi mencapai 42,15 persen menjadi US$1,46 miliar, barang baku/penolong tumbuh 29,01 persen menjadi US$11,27 miliar, dan barang modal meroket 60,73 persen menjadi US$2,78 miliar.
"Peningkatan impor terjadi dari komoditas awang putih dari China, hair conditioner dari China, buah-buahan, seperti longan dari Thailand, buah pear dari China, frozen grab meat dari China. Lalu, bungkil kedelai untuk pakan ternak dari Brasil dan Argentina, kapas dari AS, serta kompresor, elektrik, turbin, dan water boil," jelasnya.
Secara kumulatif, kinerja impor Januari-Juli 2019 menembus US$97,68 miliar atau terkoreksi 9 persen dari Januari-Juli 2018 sebesar US$107,35 miliar. "Jadi memang situasi perekonomian dunia agak buram dan itu dialami semua negara. Tapi tidak perlu lihat faktor eksternal saja, tapi juga internal," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]