Sebab, ia menilai Kartu Prakerja dan KIP dapat mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang disebut-sebut sebagai halangan utama Indonesia melangkah menjadi negara maju.
Indonesia, sejatinya, memasuki bonus demografi, di mana kelompok usia produktif, yaitu 15 hingga 64 tahun akan menjadi komponen utama piramida penduduk Indonesia. Pada 2030 mendatang, ia memperkirakan penduduk usia produktif akan mencapai 68,1 persen dari total populasi Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya apa yang dilakukan pemerintah (Kartu Prakerja dan KIP kuliah) itu lebih baik jalan saja, kalau bisa anggarannya 10 kali lipat lebih besar. Karena generasi muda ini akan menggembung, jadi berikan mereka kesempatan yang luas untuk mengembangkan dirinya," ujar Emil, Senin (19/8).
Ia juga setuju dengan pemerintah bahwa Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 seharusnya dikaitkan dengan pemberdayaan SDM.
Apalagi, ketimpangan kualitas pendidikan sebenarnya sudah terpampang jelas. Ia mencontohkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2018 yang di dalamnya juga terdapat indikator pendidikan. Merujuk data tersebut, ada provinsi yang punya IPM baik, seperti DKI Jakarta dengan skor 80,47 Namun, juga ada IPM yang rendah, seperti Papua dengan skor 60,06.
"Jadi pemerintah sebaiknya pusatkan perhatian kawasan Indonesia Timur dan harus ada upaya koreksi diri sendiri, mengapa IPM di Indonesia timur ini rendah? Please pemerintah, bangunlah SDM di Indonesia Timur. Saya yakin mereka akan berperan besar dalam membantu Indonesia keluar dari middle income trap," terang Emil.
[Gambas:Video CNN]
Ia menyebut pengembangan SDM di Indonesia ini punya tingkat urgensi lebih tinggi dibanding wacana pemindahan ibu kota. Sebab, menurutnya, upaya pemerintah untuk meratakan ekonomi melalui bangunan fisik dan membuat sumber pertumbuhan baru tidak memiliki dampak jangka panjang. Investasi di SDM justru punya dampak ekonomi yang jauh lebih berdampak.
"It's not physical, but it's human resource development. Pemerataan ini bukan hanya dengan bangunan fisik, tapi dengan intelektualitas. Ketika seluruh masyarakat Indonesia sudah bisa bangkit secara mandiri, baru itu namanya pemerataan," imbuhnya. (glh/bir)