Kaji ulang salah satunya akan dilakukan terhadap distribusi dan alokasi pemberian beasiswa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan kajian itu dilakukan guna menyesuaikan dengan kenaikan dana abadi.
Pemerintah menargetkan nilai pengelolaan empat dana abadi prioritas dalam lima tahun ke depan tembus Rp250 triliun. Empat dana abadi yang dimaksud antara lain, pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan perguruan tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu saja hasil usaha dari dana abadi makin besar, kemudian bagaimana penggunaannya dan distribusinya diatur oleh Dewan Penyantun," katanya, Rabu (21/8).
"Kami arahkan ke apa yang menjadi visi Presiden itu termasuk vokasi," imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani mengatakan kajian akan dilakukan oleh tim teknis. Targetnya, pekan depan tim akan melaporkan hasil kajian awal kepada Dewan Penyantun LPDP yang terdiri dari Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan & Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.
"Tapi belum diputuskan, masih arahan dari menteri. Apa guidance-nya, kemudian tim teknis diminta untuk menyiapkan dalam waktu seminggu ke depan baru dibahas lagi ke menteri," katanya.
Senada dengan Muhadjir, Askolani juga tak memaparkan poin kajian dengan gamblang. Ia hanya bilang kajian bertujuan untuk mempertajam pemberian beasiswa LPDP. Terkait dana beasiswa, ia memastikan tidak ada penurunan.
"Tidak (turun) malah naik, tidak berkurang," katanya.
Untuk diketahui, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp505,8 triliun untuk sektor pendidikan pada 2020 dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Anggaran tersebut meningkat 29,6 persen dibandingkan realisasi anggaran pendidikan pada 2015 lalu yang hanya sekitar Rp390,3 triliun.