"Kami secara internal sedang melakukan pendalaman tentang apa yang dibutuhkan atas satu ibu kota, karena yang namanya konektivitas transportasi itu menjadi penting bagi ibukota," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kamis (22/8).
Pembangunan transportasi massa di ibu kota baru, pernah disampaikan oleh Kepala Bappenas/Menteri PPN Bambang Brodjonegoro. Ia menyebut pemerintah berencana membangun transportasi publik pada 2021 nanti, persis saat pembangunan ibu kota baru dimulai. Alasannya, pemerintah tak mengulangi kesalahan yang sama saat membangun Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal yang mendasar adalah antara kota dengan jalan darat. Dan tentunya kereta api jadi pilihan karena kereta api jadi angkutan masa depan," ujarnya.
Kemenhub juga mempertimbangkan pembangunan bandar udara (bandara) untuk mendukung konektivitas udara. Ia menyatakan ibu kota hendaknya memiliki bandara dengan kapasitas tampung bagi segala jenis pesawat.
Terkait mendukung konektivitas angkutan laut, Kemenhub juga tengah mendalami rancangan pembangunan pelabuhan di ibu kota baru. Sebab, ibu kota baru nantinya akan menjadi pusat kegiatan pemerintah sehingga dibutuhkan pelabuhan untuk mendukung kegiatan tersebut.
Ia menyebut jika pelabuhan itu dipertimbangkan menjadi hub, maka kapasitasnya minimal 1 juta TEUs.
"Jadi kami sudah merancang secara konsep apa yang dilakukan. Nanti tinggal diaplikasikan di lokasi-lokasi itu," tuturnya.
Dalam perkembangannya, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil menyebutkan lokasi ibu kota baru akan berada di Provinsi Kalimantan Timur. Meski begitu, pemerintah masih menutup rapat informasi terkait kawasan yang benar-benar akan menjadi ibu kota pengganti DKI Jakarta.
"Iya Kalimantan Timur, tapi belum tahu lokasi spesifiknya di mana ya belum," ungkap Sofyan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (22/8).
Sofyan mengatakan pemerintah belum ingin terang-terangan membuka di mana lokasi pasti ibu kota baru karena ingin lebih dulu memastikan kesiapan lahan di kawasan tersebut. Sebab, pemerintah membutuhkan luasan tanah yang tak sedikit untuk membangun Istana Negara dan berbagai kelengkapan pemerintahan.
[Gambas:Video CNN] (ulf/lav)