Ketua Wantimpres Sri Adiningsih mengatakan hampir semua negara berkembang tengah mengembangkan ekonomi digital. Dengan kompetisi itu, maka seluruh komponen di Indonesia harus kerja keras sehingga tidak tertinggal.
"Kalau tidak nanti kita akan menjadi pasar, penonton bahkan akan menjadi korban perkembangan digital yang terjadi pesat," katanya, Kamis (22/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya, kata dia, ekonomi digital Indonesia sangat potensial. Terbukti di Indonesia memiliki start up dengan status unicorn atau perusahaan privat yang telah mengantongi valuasi lebih dari US$1 miliar. Perusahaan e-commerce unicorn itu meliputi Tokopedia, Bukalapak, dan Gojek.
Selain itu, Indonesia berhasil mencatat nilai transaksi e-commerce yang fantastis. Itu berarti, pasar e-commerce di Indonesia sangat menjanjikan. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dalam menyikapi transformasi ekonomi berbasis digital bisa meningkatkan pemerataan, bukan sebaliknya.
Ia memaparkan dalam bukunya 'Transformasi Ekonomi Berbasis Digital di Indonesia' bahwa nilai transaksi (gross merchandise value/GMV) e-commerce negara Asia Tenggara mencapai US$23,2 miliar setara Rp335 triliun pada 2018 berdasarkan riset Google Temasek.
Jumlah tersebut diprediksi meningkat menjadi US$102 miliar setara Rp1.469 triliun pada 2025.
Masih dari sumber yang sama, Indonesia memimpin transaksi e-commerce di kawasan Asia Tenggara dengan nilai sebesar US$12,2 miliar di 2018 dan diprediksi tumbuh menjadi US$53 miliar pada 2025. Sementara itu, Vietnam diprediksi menjadi negara dengan transaksi e-commerce terbesar kedua setelah Indonesia di Asia Tenggara pada 2025.
[Gambas:Video CNN] (ulf/lav)