Menurut Bambang, pemerintah sejatinya memindahkan ibu kota agar beban Jakarta tak seberat saat ini. Yakni, menjadi pusat pemerintahan, bisnis, perdagangan, dan investasi dalam satu waktu.
Tak heran, ia menilai satu per satu masalah bermunculan. Mulai dari kepadatan penduduk, kemacetan, penurunan tingkat air bersih, banjir, dan lainnya. Untuk itu, pemerintah mendesak membagi beban Jakarta ke kota lain. Namun, saat ibu kota pindah, bukan berarti pemerintah 'lepas tangan' dari Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, sebanyak 57 persen penduduk Indonesia bermukim di Pulau Jawa. Akibatnya, Jawa diperkirakan mengalami krisis ketersediaan air bersih, ancaman gempa bumi, rawan banjir, hingga kemacetan. Risiko ini membayangi pula Jakarta.
"Saya rasa ini tidak bertanggung jawab. Sikap pemerintah seharusnya kalau ada persoalan, tugas perencana adalah memecahkan soal, bukan lari dari persoalan," katanya.
"Maka saya merasa perlu memohon kepada presiden, please bisa tidak mendengar opsi lain," tutur yang juga pernah menjadi menteri di berbagai jabatan saat pemerintahan Presiden Indonesia kedua Soeharto.
[Gambas:Video CNN]
Menanti Aba-aba Presiden
Di sisi lain, Bambang menjelaskan rencana pemindahan ibu kota terus berjalan. Saat ini, Bappenas baru saja menyelesaikan dua kajian akhir terkait penentuan daerah yang akan menjadi kawasan ibu kota baru bagi Indonesia.
Kajian itu terdiri dari struktur tanah dan dampak ekonomi. "Saya sudah menyerahkan detail kajian yang kemarin masih diminta presiden. Presiden akan melihat dan review, mudah-mudahan setelah itu akan ambil keputusan," terang dia.
Kendati begitu, Bambang masih menutup rapat terkait titik pasti kawasan ibu kota baru. Meski sebelumnya, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil sempat menyebut akan berada di salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur, namun belakangan dikoreksinya sendiri.
"Yang umumkan presiden. Sabar, tunggu tanggal mainnya," celetuknya.
"Siapa DPR yang menentang? Kalau ada satu dua anggota ya nanti ada prosesnya lah," tuturnya.
Terkait perdebatan jenis transportasi yang akan berdiri di calon ibu kota baru, Sofyan menekankan pemerintah menerima semua usulan, baik kereta jenis Lintas Rel Terpadu (Light Rapid Transit/LRT) maupun Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT).
"MRT juga boleh, asal yang elevated (layang), jadi tidak perlu di dalam tanah," pungkasnya. (uli/bir)