Bos Vale dari Brasil Akan Temui Jokowi Bahas Divestasi Saham

CNN Indonesia | Rabu, 28/08/2019 10:38 WIB
Bos Vale dari Brasil Akan Temui Jokowi Bahas Divestasi Saham Ilustrasi. (REUTERS/Yusuf Ahmad).
Jakarta, CNN Indonesia -- Induk usaha PT Vale Indonesia Tbk di Brasil berniat menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membahas proses pelepasan (divestasi) 20 persen saham miliknya.

Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba), perusahaan wajib melepas 40 persen sahamnya secara bertahap.

Mengacu pada amandemen kontrak karya pada 2014, emiten berkode INCO ini telah menjual 20 persen sahamnya lebih dulu pada tahun 1990-an melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan masih memiliki kewajiban divestasi sebesar 20 persen saham yang tenggat waktunya jatuh pada Oktober 2019 nanti.

"Kami akan meminta bos kami untuk datang bertemu Presiden. Insyaallah dapat waktu bertemu sama Presiden, karena kalau tidak siapa yang mau bantu," ujar Direktur Utama Vale Indonesia Nico Kanter, Selasa (27/8).

Ia menuturkan perseroan tengah mempersiapkan surat usulan pertemuan kepada Jokowi. Perseroan juga telah mengirimkan surat tawaran valuasi saham kepada pemerintah. Akan tetapi, ia masih menutup rapat-rapat valuasi saham perusahaan yang akan dilegonya ke pemerintah.

"Dia (Pimpinan Vale) sedang mau membuat suratnya, kami tidak sembarangan," jelasnya.

Ia mengaku perseroan masih menunggu keputusan pemerintah terkait proses divestasi 20 persen saham. Meski merasa was-was lantaran tenggat waktu makin dekat, namun Nico mengaku percaya dengan kebijakan pemerintah. Ia meyakini proses divestasi bisa rampung sebelum tenggat waktu.

"Kami dengar tim sudah dibentuk dan insyaallah, kalau sudah dibentuk timnya kami akan lebih cepat dapat valuasi dan pemerintah bisa lebih cepat lagi dalam menentukan sikap apakah akan mengambil 20 persen saham Vale Indonesia ini," imbuh dia.

Untuk informasi, perusahaan produsen nikel itu mengantongi rugi periode berjalan sebesar US$26,17 juta pada semester I 2019, dari sebelumnya laba US$29,38 juta.

Kerugian dipicu penurunan pendapatan sebesar 21,98 persen dari US$374,61 juta pada semester I 2018 menjadi US$292,25 juta pada tahun ini.
[Gambas:Video CNN]


(ulf/glh)