Dilansir dari Reuters, Rabu (28/8), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$0,81 atau 1,4 persen menjadi US$59,51 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga mknyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,29 atau 2,4 persen menjadi US$54,93 per barel.
Pada perdagangan pascapenutupan (post-settlement), harga berlanjut penguatan, seperti Brent yang menyentuh level US$59,88 per barel dan WTI US$55,45 per barel. Hal itu setelah Institut Perminyakan Amerika (IPA) merilis data penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari yang diperkirakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama sesi perdagangan berlanjut, pasar minyak bergerak fluktuatif sebagai respons atas pergerakan indeks saham Wall Street yang sempat tertekan oleh jatuhnya saham sektor keuangan.
Kekhawatiran akan ada resesi AS juga membayangi optimisme awal tentang penyelesaian sengketa datang yang berlarut-larut pada dua perekonomian terbesar dunia.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri China Liu He menyatakan China berkeinginan untuk menyelesaikan sengketa melalui negosiasi yang tenang.
Namun, pada Selasa (27/8), kekhawatiran mengenai perdagangan kembali mengemuka setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan belum mendengar pembicaraan telepon apapun antara China dan AS terkait perdagangan. Ia berharap AS menghentikan aksinya yang salah dan menciptakan kondisi untuk berbicara.
Hingga kini, harga minyak mentah di China telah merosot 20 persen dari level tertingginya pada April 2019 lalu. Kondisi itu sebagian disebabkan oleh kekhawatiran terhadap perang dagang AS-China yang menyakiti perekonomian global dan berujung pada turunnya permintaan minyak.
Sebagai balasan, Trump meminta perusahaan AS untuk mencari cara menutup operasionalnya di China dan melakukan kegiatan produksi di AS.
"Optimisme pasar hanya akan muncul saat tinta pada perjanjian dagang baru AS-China mengering," ujar Broker Minyak PVM Tamas Varga.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)