Pasokan minyak mentah dari Iran berpotensi meningkat usai Presiden Perancis Emmanuel Macron meningkatkan harapan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran akan terjadi. Namun demikian, pelemahan dibatasi oleh optimisme terhadap munculnya kesepakatan dagang antara AS-China.
Dilansir dari Reuters, Selasa (27/8), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,64 atau 1,1 persen menjadi US$58,7 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent sempat menyentuh level US$60,17 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Mei lalu, Trump juga memperketat sanksinya untuk menekan ekspor minyak Iran.
"Sekarang pasar mempertimbangkan kemungkinan kita (pasar) akan melihat pasokan yang membanjir atau minyak Iran masuk ke pasar jika terjadi kemajuan," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.
Sementara itu, harga minyak mendapatkan dorongan setelah Trump menyatakan ia meyakini kesungguhan China untuk memperoleh kesepakatan dagang dengan AS.
Wakil Perdana Menteri China Liu He yang menjadi pimpinan negosiasi dengan AS menyatakan China ingin menyelesaikan sengketa melalui negosiasi yang 'kalem'. China juga menentang terjadinya kenaikan tensi perdagangan.
Sebagai gambaran, harga minyak dunia telah terguling sekitar 20 persen sejak mencapai level tertingginya pada April lalu. Pelemahan sebagian dipicu oleh kekhawatiran terhadap perang dagang AS-China bakal menekan perekonomian dunia. Ujung-ujungnya, permintaan minyak berisiko menurun.
Sebagai balasan, Trump menyatakan ia telah memerintahkan perusahaan AS untuk mencari cara menutup operasionalnya di China dan mengalihkan produksinya ke AS.
"Kita (pasar) mempertahankan pandangan pasar yang mencakup berlanjutnya volatilitas harga yang tinggi, dan sebagian besar akan digerakkan oleh berita utama terkait pembicaraan dagang AS-China atau tidak ada pembicaraan sama sekali," ujar Pimpinan Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch dalam hasil risetnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)