Kantor Dibakar Massa, Layanan Bea Cukai Jayapura Terhenti

CNN Indonesia | Jumat, 30/08/2019 14:08 WIB
Kantor Dibakar Massa, Layanan Bea Cukai Jayapura Terhenti Ilustrasi kericuhan di Papua. (ANTARA FOTO/Indrayadi TH).
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi unjuk rasa yang berujung rusuh di Jayapura membuat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Jayapura terbakar pada Kamis (29/8) malam. Akibatnya, aktivitas perkantoran dan pelayanan masyarakat terkait kepabeanan dan cukai di Jayapura terhenti.

"Pada pukul 09.00 tadi pagi, lantai atas terbakar habis, terus lantai bawah memang ada sebagian ruangan yang tidak terbakar," ujar Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Komunikasi dan Publikasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Deni Surjantoro kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/8).

Deni mengungkapkan seluruh pegawai dalam kondisi aman. Namun, instansi memutuskan untuk meliburkan pegawai sampai situasi kembali kondusif.


"Sekarang sedang berjalan proses evakuasi untuk pegawai menggunakan kapal patroli. Kami lihat situasi keamanan, kalau memang kembali aman mungkin kami sudah bisa membuka lagi aktivitas perkantoran,"tuturnya.

Terkait data-data masyarakat, sambung ia, sebagian besar ikut terbakar karena amukan massa itu. Kendati demikian, untuk data-data yang sudah terintegrasi layanan secara online, Deni menjamin keamanannya.

Kendati demikian, Deni belum bisa menaksir total kerugian yang diderita lembaga. Saat ini, petugas masih mengamankan sebagian aset yang bisa diselamatkan.

"Nanti kami lihat perkembangan selanjutnya. Kami masih dalam proses pengamanan dan mulai pendataan untuk pegawai termasuk juga pengamanan aset kantor yang bisa kami amankan,"ucapnya.

Sementara itu, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak Hestu Yoga Saksama memastikan kondisi kantor pajak di Jayapura aman. Namun, aktivitas perkantoran menyesuaikan dengan kondisi keamanan di lapangan.

"Pegawai kami semua aman. Masalah buka kantor kami melihat situasi sepertinya memang, seperti kantor-kantor yang lain, kami buka tetapi tidak optimal sembari melihat kondisi," kata Hestu.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)