Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menjelaskan angka kerugian didapatkan dari asumsi produksi ayam nasional sebanyak 18 juta ekor per minggu atau 936 juta ekor per tahun.
Setiap ekornya, lanjut dia, peternak merugi rata-rata Rp1.200 dalam 13 bulan terakhir, lantaran harga jual lebih rendah ketimbang harga pokok produksi (HPP). Dengan demikian, didapatkan angka kerugian sebesar Rp1,12 triliun, selanjutnya angka kerugian itu dikalikan rata-rata berat ayam hidup saat dijual, yakni 1,6 Kilogram (Kg).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perwakilan Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) Bogor Wismaryanto menambahkan akibat kerugian itu banyak peternak memilih gulung tikar. Dalam kurun waktu 3 bulan saja, terdapat 5-6 peternak ayam mandiri di Bogor tutup usaha akibat merugi terus menerus.
Tahun 2000, anggota PPUN Bogor masih mencapai 140. Namun, pada saat perkumpulan PPUN Bogor tahun ini anggotanya tidak lebih dari 20 peternak.
Ia mensinyalir jatuhnya harga ayam disebabkan kelebihan pasokan di pasar. Pasalnya, pemerintah memperbolehkan perusahaan integrator untuk melakukan budidaya ayam di dalam negeri. Tak hanya itu, mereka juga diperbolehkan menjualnya di pasar tradisional bersama dengan peternak mandiri.
"Dari situ harga hancur luar biasa. Dari 2014 awal sampai tahun ini setiap tahun peternak ayam catatannya merah semuanya," katanya.
Wismaryanto sendiri telah memangkas karyawannya dari 100 orang menjadi 30 orang lantaran terpaksa melakukan efisiensi untuk menekan biaya operasional.
[Gambas:Video CNN] (ulf/bir)