Pemerintah Cari Solusi Agar Pertamina Bisa Jangkau Harga CPO

CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 08:20 WIB
Pemerintah Cari Solusi Agar Pertamina Bisa Jangkau Harga CPO Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan akan mencari solusi agar harga keekonomian minyak kelapa sawit (CPO) yang digunakan sebagai campuran bahan bakar ramah lingkungan (green fuel/biofuel) bisa terjangkau oleh PT Pertamina. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengaku akan mencari solusi agar harga keekonomian minyak kelapa sawit (CPO) yang digunakan sebagai campuran bahan bakar ramah lingkungan (green fuel/biofuel) bisa terjangkau oleh PT Pertamina (Persero). Untuk diketahui jenis CPO yang digunakan guna menghasilkan green fuel adalah yang telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal sebagai Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Menteri Perekonomian Darmin Nasution meyakini permasalahan harga keekonomian minyak kelapa sawit dapat diselesaikan melalui kebijakan yang tepat. "Jadi jangan mulai dibilang harus begini (harganya), memangnya tidak ada kebijakan lain dalam menjawab itu," katanya akhir pekan lalu.

Sebelumnya, pihak Pertamina mengeluhkan harga minyak sawit di pasar sebesar US$500 per ton. Sedangkan, berdasarkan perhitungan perusahaan, harga keekonomian minyak sawit seharusnya berada di angka US$490 per ton. Dengan harga keekonomian yang tepat, Pertamina bisa memproduksi lebih banyak green fuel.


Menanggapi keluhan itu, Darmin menegaskan solusi yang dicari pemerintah tak hanya sekadar mengakomodasi Pertamina, namun tetap menjaga harga kelapa sawit di tingkat petani.

"Rakyat juga perlu harga kelapa sawit lebih baik," katanya.

Guna menghasilkan green fuel, minyak sawit tersebut memasuki co-processing atau proses pencampuran dengan bahan bakar fosil di kilang. Pengolahannya melalui proses kimia menggunakan katalis sehingga menghasilkan green fuel. Green fuel sendiri terdiri dari green gasoline atau biogasoline (campuran bensin) dan green diesel atau biodiesel (campuran solar).

Untuk green gasoline, Pertamina tengah mengembangkannya di Kilang Refinery Unit (RU) III Plaju, Sumatera Selatan. Komposisi minyak sawit pada green gasoline di Kilang Plaju mencapai 20 persen.

Sedangkan untuk green diesel, Pertamina tengah mengembangkannya di RU II Kilang Dumai, Riau dengan komposisi minyak sawit sebesar 12,5 persen. Pemerintah menargetkan biodiesel dengan campuran minyak sawit 30 persen atau B30 bisa dijalankan pada awal 2020.

[Gambas:Video CNN]
Rencananya, Pertamina juga akan melakukan uji coba komersial green avtur atau bio avtur pada Februari mendatang di Kilang RU IV Cilacap bekerja sama dengan ITB. Khusus untuk avtur, minyak nabati yang digunakan adalah Palm Kernel Oil (PKO) atau minyak inti sawit.

Tahap awal, green avtur ditargetkan bisa mengandung 2-5 persen minyak inti sawit.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Rusman Heriawan mengatakan pemerintah hendaknya tidak hanya fokus pada produksi biodiesel. Sejalan dengan itu, pemerintah perlu mengembangkan green gasoline.

"Kalau sampai ke B30 tujuan akhirnya adalah mengurangi impor untuk memperbaiki neraca dagang, yang bocor banyak kan di gasoline. Nah itu yang harus dikembangkan juga," tuturnya.

(ulf/agt)