Uji Coba Produksi Bioavtur di Kilang Cilacap Mulai 2020

CNN Indonesia | Sabtu, 07/09/2019 13:06 WIB
Uji Coba Produksi Bioavtur di Kilang Cilacap Mulai 2020 Ilustrasi kelapa sawit. (WAHYUDI / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan melakukan uji coba produksi bioavtur atau avtur nabati di kilang Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Rencananya uji coba menggunakan minyak inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO)tersebut akan dilakukan pada Februari 2020 mendatang.

Guru Besar Teknik Reaksi Kimia dan Katalis (TRKK) ITB Subagjo mengatakan pihaknya telah mengembangkan uji coba perdana (pilot project) avtur nabati di ITB.

"Nanti Februari kami diberi kesempatan oleh Pertamina untuk uji coba skala komersial," katanya, Jumat (6/9).


Ia melanjutkan pada uji coba tersebut, produksi avtur di RU IV Cilacap dialokasikan untuk bioavtur sekitar 2-5 persen.

Jika uji coba komersial berhasil, selanjutnya diputuskan apakah avtur nabati akan diproduksi secara komersial atau tidak.

"Kapasitas RU IV Cilacap sebesar 13 ribu barel per hari untuk mengolah minyak fosil. Nah, kami mau titip 2-5 persen untuk bioavtur," tuturnya.

Ia menjelaskan proses pembuatan bioavtur akan menggunakan Katalis Merah Putih yang dikembangkan oleh ITB. Katalis merupakan komponen yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia dalam proses pengolahan minyak fosil menjadi bahan bakar nabati.

Khusus untuk pengolahan avtur nabati maka akan menggunakan katalis jenis PIDO 130-1,3T dan PIHI 780-1T yang mampu mengubah minyak inti sawit menjadi avtur nabati.

Sementara itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) menyediakan minyak inti sawit sebagai bahan campuran untuk memproduksi avtur nabati. Ia menyatakan produksi avtur nabati penting dikembangkan. Pasalnya, penggunaan avtur di Indonesia cukup banyak bahkan melebihi penggunaan solar.

"Kami meminta dukungan pemerintah dalam uji coba komersil ini," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Darmin Nasution mendukung pengembangan produksi avtur nabati. Ia mengatakan Indonesia membutuhkan diversifikasi produk kelapa sawit.

Sebagai gambaran, luas kebun kelapa sawit mencapai 16,3 juta hektare (ha). Ketika seluruh tumbuhan kelapa sawit memasuki umur panen maka produksi kelapa sawit Indonesia berpotensi mencapai 80-90 juta ton.

"Dilihat dari angka itu, tidak ada pilihan lain untuk fight (perjuangkan) penggunaan terutama dari dalam negeri, karena kita tidak bisa tergantung dari pasar dunia saja," tuturnya.

Ia juga mendorong produksi katalis dalam negeri. Pasalnya, Pertamina masih mengimpor katalis untuk memproduksi bahan bakar nabati.

Darmin mendorong PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pertamina, dan PT Rekayasa Industri membangun pabrik katalis nasional.

"Tentunya ITB dapat bekerjasama dengan dunia usaha seperti Pertamina, sehingga hasil penelitian berupa katalis dapat diimplementasikan di kilang Pertamina", imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga pernah menyampaikan keinginannya agar Indonesia mampu memproduksi avtur nabati. Di samping itu, kepala negara juga menegaskan ingin mengurangi impor avtur. Sebaliknya, ia berharap melakukan ekspor bahan bakar pesawat tersebut.

"Kami sudah memproduksi sendiri avtur hingga tidak impor avtur lagi. Tapi, kami bisa lebih dari itu, kami bisa ekspor avtur, kami juga ingin produksi avtur berbahan sawit," kata Jokowi dalam Pidato Presiden mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2020, Jumat (16/8) lalu.
(ulf/sfr)