Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Jumat (13/9) tercatat US$60,22 per barel atau melemah 2,1 persen sepanjang pekan lalu. Pelemahan itu merupakan yang pertama dalam lima pekan terakhir.
Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sekitar 3 persen menjadi US$54,85 per barel. Penurunan tersebut merupakan yang pertama dalam tiga pekan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, harga minyak tetap mendapat tekanan dari proyeksi permintaan yang melemah.
Pekan lalu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasokan minyak dunia berpotensi surplus tahun depan. Pasalnya, upaya pembatasan pasokan yang dilakukan OPEC dan sekutunya tak cukup untuk melawan pertumbuhan produksi minyak AS.
Sebuah komite pengawasan OPEC+ mengantongi komitmen dari Irak dan Nigeria untuk melaksanakan porsi pemangkasan produksinya. Selama ini, Irak dan Nigeria gagal melaksanakan kesepakatan tersebut. OPEC+ belum memutuskan untuk memangkas produksi lebih dalam.
[Gambas:Video CNN]
Beberapa delegasi OPEC menyatakan gagasan untuk pemangkasan yang lebih besar pada tahun depan mendapatkan dukungan. Namun, Menteri Energi Arab Saudi
Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan pembicaraan mengenai pemangkasan baru akan dilakukan pada pertemuan OPEC+ berikutnya pada Desember mendatang.
"Jika kesepakatan perdagangan AS-China terjadi, mereka (OPEC+) mungkin harus mengerek produksi, bukan memangkas," kata Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago. (sfr/lav)