Ekspektasi Pasar terhadap The Fed Kerek Harga Emas

CNN Indonesia | Rabu, 18/09/2019 09:39 WIB
Ekspektasi Pasar terhadap The Fed Kerek Harga Emas Ilustrasi emas Antam. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga jual emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) berada di posisi Rp757 ribu per gram pada Rabu (18/9) atau naik Rp4.000 dari Rp753 ribu per gram pada Selasa (17/9).

Sementara itu, harga pembelian kembali (buyback) naik Rp5.000 dari Rp675 ribu ke Rp680 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp403 ribu, 2 gram Rp1,46 juta, 3 gram Rp2,17 juta, 5 gram Rp3,6 juta, 10 gram Rp7,14 juta, 25 gram Rp17,75 juta, dan 50 gram Rp35,43 juta.


Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp70,8 juta, 250 gram Rp176,75 juta, 500 gram Rp353,3 juta, dan 1 kilogram Rp706,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Berdasarkan data acuan perdagangan internasional Commodity Exchange COMEX, harga emas terkoreksi 0,27 persen menjadi US$1.509,3 per troy ons pada pagi ini. Begitu pula dengan harga emas di perdagangan spot turun tipis 0,02 persen ke US$1.501,6 per troy ons.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan harga emas bakal terkonsolidasi hari ini berkat sentimen pengumuman hasil rapat dewan gubernur bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Ekspektasi pasar masih sama, yaitu mengharapkan pelonggaran kebijakan moneter dari The Fed berupa penurunan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

"Harga emas mungkin berkonsolidasi di kisaran US$1.493 sampai US$1.507 per troy ons jelang pengumuman suku bunga The Fed. Pelonggaran moneter bisa mendorong penguatan harga emas," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Kendati begitu, menurutnya, harga emas tetap memiliki potensi penurunan harga berkat meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terjadi pada akhir pekan lalu. Pada Sabtu (14/9), serangan drone mendarat di fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco.

Serangan itu diperkirakan membuat volume pasokan minyak mentah dunia akan menurun sekitar 5,7 juta barel atau 50 persen dari pasokan minyak. Selain itu, diproyeksikan pula bakal mengerek harga minyak mencapai US$10 per barel dalam beberapa waktu ke depan.

Hanya saja, kekhawatiran mulai mereda berkat upaya invetigasi cepat dari pemerintah Arab Saudi akan serangan drone ini. "Pasca pengeboman, para pejabat terkait berusaha meredam isu sehingga konflik tidak meluas ke negara-negara lain. Harga emas pun bisa kembali turun," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN] (uli/lav)