Sebelumnya, The Fed memangkas suku bunga acuannya Fed Rate sebesar 25 basis poin menjadi menjadi 1,75 persen hingga 2 persen pada Rabu (18/9) waktu setempat. Pemangkasan tersebut merupakan yang kedua kalinya sepanjang tahun ini.
"Apakah (penurunan suku bunga acuan) dipengaruhi keputusan The Fed tadi malam? Tidak ada. Kami sebelumnya memang sudah meramal bahwa The Fed akan melakukan penurunan suku bunga acuan," ujar Perry, Kamis (19/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Serta ini sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat," papar dia.
Ia berharap penurunan suku bunga acuan bisa segera ditransmisikan oleh perbankan ke dalam bentuk penurunan suku bunga kredit. Dengan demikian, pelaku usaha bisa tergugah melakukan investasi. Di saat yang sama, masyarakat dapat termotivasi untuk melakukan konsumsi.
Ia kemudian mengatakan bahwa peluang pelonggaran kebijakan moneter masih bisa terjadi di kemudian hari. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan suku bunga acuan bukan satu-satunya instrumen kebijakan moneter sebab BI masih bisa intervensi dalam bentuk kebijakan makroprudensial.
"Jadi kami bisa melanjutkan kebijakan yang akomodatif sejalan dengan prakiraan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Perry.
Sebagai informasi, hari ini, BI kembali menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen. Ini merupakan penurunan suku bunga acuan ketiga pada tahun ini setelah BI memangkas suku bunga acuannya pada Juli dan Agustus lalu, masing-masing sebesar 25 bps.
[Gambas:Video CNN] (glh/sfr)