Harga Minyak Anjlok 1 Persen Tertekan Penurunan Permintaan

CNN Indonesia | Senin, 30/09/2019 07:47 WIB
Harga Minyak Anjlok 1 Persen Tertekan Penurunan Permintaan Ilustrasi minyak. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia tergelincir sekitar 1 persen pada Jumat (27/9). Kekhawatiran investor bahwa perlambatan kinerja ekonomi China akan menekan permintaan menjadi satu sentimen yang membebani pergerakan harga minyak.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 1,3 persen ke level US$61,91 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,9 persen menjadi US$55,91 per barel.

Sepanjang pekan lalu, harga minyak mentah Brent sendiri terkoreksi sebesar 3,7 persen. Tak jauh beda, harga minyak mentah berjangka WTI turun 3,6 persen.


Pelemahan harga minyak mentah dunia bersamaan dengan penurunan aset berisiko tinggi lainnya pasca perusahaan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut akan menghapus perusahaan China dari bursa saham AS. Langkah itu akan menambah panas situasi perang dagang antara kedua negara tersebut.
Selain itu, jatuhnya harga minyak juga dipengaruhi konflik Iran dan AS. Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan AS menawarkan untuk menghapus semua sanksi terhadap Iran.

Namun, Presiden AS Donald Trump mengaku telah menolak permintaan kepala negara itu.

"Kami benar-benar mengikuti semua berita," kata Phil Flynn selaku Analis Price Futures Group, dikutip Senin (30/9).

Tak hanya itu, situasi di Arab Saudi turut membebani harga minyak mentah dunia pekan lalu. Wall Street Journal melaporkan Arab Saudi telah menyetujui gencatan senjata sebagian di Yaman.

[Gambas:Video CNN]
"Arab Saudi menjadi pengaruh utama pergerakan harga minyak bulan ini," kata Jim Ritterbusch, dari Ritterbusch and Associates.

Sebelumnya, pesawat tanpa awak (drone) telah menyerang fasilitas minyak di Arab Saudi pada pertengahan September ini. Serangan itu memangkas separuh dari produksi minyak mentah Arab Saudi sekaligus membatasi kapasitas cadangan negara tersebut.

Salah satu sumber Reuters menyebutkan Arab Saudi sudah mengembalikan kapasitas produksi menjadi 11,3 juta barel per hari. Namun, Saudi Aramco belum mengkonfirmasi kabar tersebut.

(aud/agt)