September Deflasi 0,27 Persen Karena Harga Cabai Murah

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 11:27 WIB
September Deflasi 0,27 Persen Karena Harga Cabai Murah Telur ayam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,27 persen di September. Angka ini lebih kecil dibandingkan inflasi Agustus sebesar 0,12 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan realisasi ini menjadikan inflasi tahun kalender mencapai 2,2 persen hingga September kemarin. Kemudian, deflasi ini juga lebih dalam dibanding dari September tahun lalu yang mencatat deflasi 0,18 persen.

"Bisa kami simpulkan inflasi masih terkendali," ujarnya, Selasa (1/10).

Suhariyanto mengatakan deflasi terjadi di 70 kita di Indonesia, sedangkan 12 kota lainnya mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,94 persen dan terendah terjadi di Surabaya sebesar 0,02 persen

Deflasi, lanjut dia, disebabkan karena kelompok pengeluaran bahan makanan mencatat deflasi 1,7 persen dan memberi andil deflasi September 0,44 persen.

Adapun, beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi adalah cabai merah sebesar 0,19 persen, bawang merah sebesar 0,07 persen, daging ayam ras andil sebesar 0,05 persen, cabai rawit sebesar 0,03 persen, dan telur ayam ras yang memberi andil ke deflasi 0,02 persen.

Meski demikian, deflasi ini tertahan oleh inflasi di kelompok sandang, utamanya karena kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,72 persen dan memberi andil inflasi 0,05 persen di September. Inflasi emas ini terjadi di 78 kota, di mana kenaikan harga paling tinggi terjadi di Cirebon sebesar 10 persen.

"Harga beras pun menyumbang inflasi, tapi tenang saja karena pemerintah memastikan stok beras masih tetap aman," tutur dia.

Walhasil, jika dilihat secara komponen, maka kelompok harga bergejolak mengalami deflasi 0,44 persen. Sementara itu, inflasi inti masih bergerak 0,17 persen yang mengindikasikan bahwa deflasi ini bukan terjadi karena penurunan daya beli masyarakat.

Dengan demikian, ini menyebabkan inflasi secara tahunan (year-on-year) mencapai 3,39 persen. Ia bilang angka ini masih terkendali meski ada beberapa hal yang perlu diantisipasi menjelang akhir tahun nanti.

"Kami harapkan, inflasi tiga bulan terakhir akan terkendali meski kami antisipasi Desember nanti ada kenaikan permintaan di libur sekolah dan persiapan Natal dan tahun baru," pungkas dia.
[Gambas:Video CNN]


(glh/bir)