PT PP Ajukan Diri Garap Tol Malang-Kepanjen

CNN Indonesia | Jumat, 04/10/2019 10:43 WIB
PT PP Ajukan Diri Garap Tol Malang-Kepanjen Ilustrasi. (www.pt-pp.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PP (Persero) Tbk mengajukan diri sebagai prakarsa proyek jalan Tol Malang-Kepanjen sepanjang kurang lebih 30 Kilometer (Km). Tol tersebut merupakan lanjutan dari Tol Pandaan-Malang.

Direktur Utama PP Lukman Hidayat menargetkan perseroan dapat mengantongi izin prakarsa Tol Malang-Kepanjen awal tahun depan. Investasi Tol Malang-Kepanjen diperkirakan mencapai Rp6 triliun-Rp7 triliun. Waktu pengerjaan diperkirakan mencapai 3 tahun.

Saat ini, usulan sudah disampaikan kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).


"Jadi kami bisa mulai aktivitas di kuartal I (2020), mungkin konstruksi di medio (2020) atau di kuartal III. Tergantung konstruksinya elevated atau at grade," katanya Kamis (3/10).

Ia menyatakan perseroan telah melakukan kajian terhadap potensi keekonomian Tol Malang-Kepanjen. Hasil survei menunjukkan jika Tol Malang-Kepanjen memenuhi nilai keekonomian lantaran jalur tersebut merupakan jalur wisata sehingga dilalui banyak kendaraan.

Selain mengajukan diri sebagai prakarsa Tol Malang-Kepanjen, PT PP juga berencana mengusulkan prakarsa atas dua jalan tol lainnya. Namun, Lukman enggan membeberkan nama dua ruas tol tersebut.

"Ada lagi dua yang sedang mau kami proses, di Jakarta dan satu lagi di Jawa Barat, itu nanti dulu," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]
Revisi Turun Target Kontrak

Lukman mengungkapkan perseroan merevisi turun raihan kontrak baru pada 2019 dari sebelumnya Rp50,3 triliun menjadi Rp45 triliun. Alasannya, beberapa tender proyek milik pemerintah mundur. Per September 2019, perseroan baru memperoleh kontrak baru sebesar Rp23 triliun.

"Kedua, banyak sektor swasta yang harusnya melaksanakan tender juga ditunda. Tahun ini ditunda, mungkin tahun depan," tuturnya.

Revisi target raihan kontrak baru tersebut mempengaruhi target pendapatan dan laba perusahaan konstruksi pelat merah itu. Mulanya, perseroan mematok pendapatan sebesar Rp30 triliun, namun dipangkas menjadi Rp28 triliun. Sedangkan target laba, lanjutnya, masih dalam pembahasan di tingkat direksi dan komisaris. Targetnya, seluruh revisi tersebut selesai bulan ini.


"Jadi belum final karena masih bicara dengan komisaris. Masih revisi karena proyeknya mundur-mundur jadi mengganggu kami," paparnya.

Semester I 2019, perseroan mencatat kinerja kurang cemerlang. Laba perusahaan dengan kode saham PTPP itu turun 24,2 persen dari Rp479,75 miliar menjadi Rp363,37 miliar. Namun, realisasi pendapatan naik 12,8 persen dari Rp9,5 triliun menjadi RP10,72 triliun. (ulf/lav)