Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perlambatan ekonomi global tentu bisa menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya saja, ia tak bisa memprediksi besarnya dampak tersebut terdapat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Nanti kami lihat dari statistik, nanti lihat saja di Badan Pusat Statistik (pertumbuhan ekonomi) kuartal ketiga ini. Kami akan terus mewaspadai saja," ungkap Sri Mulyani, Kamis (3/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu kalau di AS sendiri besar, maka itu akan mempengaruhi sentimen dan confidence (pelaku pasar) dunia. Dampaknya memang besar ke seluruh dunia," jelas Sri Mulyani.
Di satu sisi, pemerintah memang perlu waspada. Perlambatan ekonomi global tentu akan menyeret perlambatan ekonomi. Namun, pemerintah seharusnya tidak terlalu khawatir, sebab peluang Indonesia jatuh ke dalam resesi masih kecil.
Ia mengutip The Washington Post yang mengatakan terdapat sembilan negara yang terancam resesi seperti Jerman, Inggris, Italia, Meksiko, Brasil, Argentina, Singapura, Korea Selatan, dan Rusia.
Ancaman resesi ini tentu akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi global yang terus melambat. Jika sudah begitu, maka perlambatan ekonomi juga tak bisa dihindari Indonesia.
Sebab, Produk Domestik Bruto (PDB) mengandung faktor eksternal, yakni ekspor netto. Jika kinerja ekspor tak mumpuni, hal itu tentu akan menahan pertumbuhan ekonomi.
[Gambas:Video CNN]
"Pertumbuhan ekonomi China tahun ini kemungkinan di angka 6 persen dari prediksi sebelumnya 6,2 persen. Belum lagi, ada sembilan negara terancam resesi. Jadi ketika negara lain lesu, Indonesia tidak bisa up sendiri," jelas Faisal.
Meski begitu, pemerintah disebutnya tak perlu panik bahwa resesi akan mendekati Indonesia. Sebab, faktor eksternal bukanlah kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal II lalu, ekspor hanya berkontribusi sebesar 17,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, PDB Indonesia masih bertumpu pada konsumsi dan investasi dengan porsi masing-masing sebesar 55,79 persen dan 31,25 persen terhadap PDB.
Kondisi ini berbeda dengan Singapura yang kerap digadang-gadang mengalami resesi mengingat ukuran ekspor Singapura 270 persen terhadap PDB. Makanya, dampak perlambatan ekonomi global sangat berdampak parah terhadap negara singa tersebut.
Selain itu, ia mengatakan bahwa sektor keuangan Indonesia juga masih dangkal. Sehingga, jika memang ada krisis keuangan global, dampak ke Indonesia juga tak akan separah negara lain.
Dalam hal ini, ia mengacu pada data Bank Dunia bahwa rasio kredit terhadap PDB masih di angka 38,8 persen pada 2018 lalu. Angka ini masih lebih kecil dibanding Singapura sebesar 121,9 persen, Jerman sebesar 77,7 persen, atau rata-rata Asia Pasifik Timur sebesar 152,5 persen.
"Saat krisis keuangan global 2008 kemarin, Indonesia masih bisa cetak pertumbuhan 4,6 persen," jelas dia.
Konsumsi domestik memang masih bisa ditangani, sehingga yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah investasi. Hanya saja, ongkos investasi di Indonesia tidak efisien, sehingga dampaknya ke pertumbuhan ekonomi disebut kurang 'nendang'. Hal ini, imbuh Faisal, terlihat di dalam skor Incremental Capital-Output Ratio (ICOR).
ICOR merupakan parameter yang menggambarkan besaran tambahan modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Dengan kata lain, semakin tinggi skor ICOR, artinya investasi semakin tak efisien.
Hanya saja, saat ini skor ICOR Indonesia di angka 6,3, atau lebih tinggi dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya yang di kisaran 3. Padahal, jika investasi semakin efisien, maka dampaknya ke pertumbuhan ekonomi akan lebih terasa.
"Kalau Pak Jokowi ingin ekonomi tumbuh 6 persen, maka ICOR bisa diturunkan ke 5,4 saja. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi bisa 7 persen, maka ICOR harus turun lagi ke kisaran 4,6 seperti masa orde baru. Kalau sudah punya ICOR yang rendah, pertumbuhan ekonomi 6 persen tinggal merem saja," pungkas dia.
Sementara itu, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengakui bahwa ancaman resesi ekonomi global sudah menjadi fokus bagi beberapa lembaga utama dunia. Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), dan Organization for Economic Cooperation and Development sudah merevisi pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 2,9 persen hingga 3,3 persen menjadi 2,6 persen hingga 3,2 persen.
Perlambatan ekonomi ini tentu akan mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Ia memberi contoh, pertumbuhan ekonomi Singapura yang melemah jadi 0 persen hingga 0,1 persen di tahun ini bisa melemahkan ekspor Indonesia hingga 7,8 persen.
Hanya saja, pemerintah tak boleh hanya terpaku pada indikator ekspor semata. Menurut dia, investasi seharusnya bisa menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang optimal.
Namun, pertumbuhan investasi sejatinya bisa digenjot jika dinamika situasi sosial politik di dalam negeri juga stabil. Jika situasi politik tak menunjukkan kestabilan, maka investor akan selalu pasang sikap kuda-kuda terus terhadap Indonesia (wait and see).
Sayangnya, kondisi sosial politik Indonesia beberapa waktu terakhir disebutnya terbilang cukup dinamis. Hal ini bermula dari sikap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang meloloskan dan merumuskan beberapa undang-undang yang dinilai kontroversial, sehingga mengundang masyarakat turun ke jalan.
"Jika pemerintah tak punya langkah antisipasi, situasi politik dalam negeri yang belum stabil hanya akan membuat Indonesia rawan terkena resesi ekonomi," pungkas dia. (glh/lav)