"Saya dengan Menteri Perdagangan Korea sepakat IK-CEPA secara substansi concluded. Jadi, secara substansi sudah selesai untuk ditandatangani November 2019," ujarnya di Malang, Jawa Timur, Jumat (4/10).
Kemitraan dengan Korsel awalnya diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae In di G20. Lalu, Enggar melanjutkan dengan berdiskusi bersama Menteri Perdagangan Korea Selatan Yoo Myung-Hee.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kemitraan dengan Korea Selatan, pemerintah berharap ekspor produk pertanian dan perikanan bisa lebih meningkat ke Negeri Ginseng tersebut. Selain itu, perjanjian ini juga akan menggenjot investasi Korsel di Indonesia, khususnya di sektor manufaktur.
Sebagai gantinya, Indonesia akan memberikan kemudahan impor dari Korea Selatan. Utamanya, barang yang diimpor adalah barang modal.
Selain IK-CEPA, pemerintah juga menargetkan dapat menyelesaikan dua perundingan perdagangan bebas lainnya hingga akhir tahun ini. Dua perjanjian dagang itu adalah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Indonesia-Taiwan Preferential Trade Agreement (PTA).
"RCEP sedang saya coba untuk setidaknya substantially concluded pada pertengahan November ini saat KTT ASEAN di Bangkok," terang Iman.
RCEP adalah perjanjian perdagangan regional di antara 10 negara Asia Tenggara (Asean) dengan enam mitra perdagangan bebas Asean yakni China, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
[Gambas:Video CNN]
Sementara, Indonesia-Taiwan PTA adalah kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Taiwan untuk menurunkan bea masuk produk-produk tertentu.
Sebelumnya, Enggar menyatakan Indonesia bisa meningkatkan pasar ekspor melalui RCEP. Pasalnya, 16 negara anggota RCEP menguasai sekitar 45 persen dari total populasi dunia.
"Dengan begitu Indonesia bisa bebas, bisa pilih. Kalau terpaku pada satu dua saja, kalau terjadi sesuatu kita susah," pungkas Enggar. (aud/bir)