Dengan hadirnya jembatan yang menghabiskan biaya pembangunan mencapai Rp 1,38 triliun tersebut, jarak tempuh dari Kalimantan Timur ke Kalimantan Selatan dapat terpangkas hebat. Dari semula 100 Kilometer (Km) dengan rute memutar, kini menjadi hanya sekitar 30 Km.
Sampai saat ini, progres pembangunan jembatan yang berada di atas Teluk Balikpapan tersebut sudah mencapai 69,3 persen hingga September 2019. Kehadiran Jembatan Pulau Balang II dinilai akan memperlancar konektivitas antara Samarinda, Balikpapan dengan ibu kota negara baru di Kabupaten Penajam Paser Utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain sebagai penghubung jaringan jalan poros selatan Kalimantan, jembatan ini juga mendukung rencana pengembangan Pelabuhan Peti Kemas Kariangau dan Kawasan Industri Kariangau.
Untuk jalan akses di sisi Penajam dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara dan jalan akses Balikpapan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
[Gambas:Video CNN]
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Balikpapan Ditjen Bina Marga Refly Ruddy Tangkere mengatakan saat ini konstruksi Jembatan Pulau Balang II sudah memasuki proses pengecoran lantai jembatan dan pemasangan pertama cable stayed jembatan.
Dia menyebutkan pekerjaan konstruksi sempat terkendala karena pembebasan lahan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah, namun sudah bisa dibayarkan secara tuntas pada akhir 2018.
Tantangan lain, menurut Refly adalah curah hujan dan arus air laut yang tinggi. Selain itu, sebagian besar material harus didatangkan dari luar Kalimantan, seperti semen dari Makassar, pasir agregat dari Palu, dan fly ash campuran beton dari Probolinggo, dan alat berat dari Jakarta.