Bappenas Akui Sulit Hapus Kemiskinan dengan Ekonomi 5 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 09/10/2019 17:17 WIB
Bappenas Akui Sulit Hapus Kemiskinan dengan Ekonomi 5 Persen Ilustrasi kemiskinan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro menyatakan Indonesia akan sulit mengatasi kemiskinan dan pengangguran kalau pertumbuhan ekonomi masih bergerak di level 5 persen seperti sekarang ini. Menurutnya, pemerintah perlu memacu pertumbuhan yang tinggi supaya dua permasalahan tersebut bisa diatasi.

"Pertumbuhan ekonomi 5 persen atau 5,1 persen belum cukup karena kita masih punya isu kemiskinan dan pengangguran, sehingga kita masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," katanya, Rabu (9/10).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 hanya 5,05 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan periode sama tahun lalu yang masih bisa mencapai 5,27 persen.


Jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pada periode ke belakang, maka angka pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami tren penurunan. Pada periode 1968-1979 rata-rata pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 7,5 persen.

Lalu, tren rata-rata pertumbuhan ekonomi melemah menjadi 6,4 persen pada periode 1980-1996. Kemudian pada periode 2000-2018 rata-rata pertumbuhan ekonomi kembali merosot ke 5,3 persen.

Melihat kondisi tersebut, Bambang menuturkan Indonesia perlu mengidentifikasi struktur ideal untuk pertumbuhan ekonomi. Pada 1980-1996, pertumbuhan ekonomi mampu mencapai rata-rata 6,4 persen ditopang dari kombinasi sektor sumber daya alam (SDA) dan manufaktur.

Sayangnya, kinerja sektor manufaktur yang menjadi salah satu tumpuan pertumbuhan ekonomi makin merosot. Sepanjang 10 tahun terakhir, Indonesia mencapai titik tertinggi pertumbuhan manufaktur pada 2011. 

[Gambas:Video CNN]
Pada waktu itu, sektor manufaktur masih tumbuh sebesar 6,7 persen, atau melebihi pertumbuhan ekonomi yakni 6,2 persen. Setelah itu, baik pertumbuhan ekonomi maupun manufaktur kompak lesu.

Pada kuartal II 2019, industri manufaktur hanya bisa tumbuh 3,4 persen lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,88 persen. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memperkirakan industri manufaktur akan tumbuh 5,4 persen pada 2019.

Karenanya, sambung Bambang, Indonesia harus kembali memaksimalkan peran manufaktur pada pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan itu, Indonesia perlu mendorong sumber pertumbuhan ekonomi potensial lainnya.

"Sekarang tidak hanya manufaktur, tapi sektor jasa juga memiliki peran penting. Pariwisata juga bisa menurunkan defisit transaksi berjalan. Jangan lupa kita punya potensi kepada digital ekonomi yang menjadi bagian dari sektor jasa," kata Bambang.

(ulf/agt)