Sebelumnya, Bank Dunia memangkas proyeksi laju ekonomi Indonesia tahun ini dari 5,2 persen menjadi 5 persen.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara menyatakan pemerintah telah mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut. Bahkan, Kemenkeu memperkirakan perekonomian Indonesia tahun ini hanya di kisaran 5,08 persen atau lebih rendah dari tahun lalu, 5,17 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terbukti, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia sepanjang periode Januari-Agustus 2019 hanya US$110,07 miliar atau merosot 8,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Padahal, ekspor merupakan salah satu komponen penyokong pertumbuhan ekonomi selain konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, impor, dan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB).
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan oleh kondisi eksternal yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi.
Perang dagang AS-China, lanjut dia, mempengaruhi permintaan dan penawaran di pasar global. Imbasnya, kinerja ekspor dan impor Indonesia ikut tertekan.
Tak hanya itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi China juga lebih besar dari perkiraan. Padahal, lanjutnya, China merupakan pasar utama ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun ini tercatat hanya mencapai 6,2 persen, terendah sejak 27 tahun terakhir.
[Gambas:Video CNN]
Tak hanya perang dagang, konflik geopolitik terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) juga turut mengancam pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa waktu terakhir, ancaman resesi ekonomi pun berhembus. "Perekonomian global tengah dipenuhi ketidakpastian. Itulah alasan kenapa kami mengubah prediksi dari April lalu," katanya.
Kendati demikian, Bank Dunia meyakini pertumbuhan ekonomi akan pulih secara perlahan. Ia menuturkan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 5,1 persen di 2020 dan 5,2 persen di 2021.