Jika diakumulasi, defisit neraca perdagangan Januari-September 2019 mencapai US$1,95 miliar. Realisasi defisit ini lebih rendah ketimbang periode Januari-September 2019 yang masih mencapai US$3,78 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$14,1 miliar, sementara impor mencapai US$14,26 miliar. Kinerja ekspor turun persen dari bulan sebelumnya, sedangkan impor melorot lebih dalam 8,53 persen dari Agustus 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan ekspor ini terkadi karena penurunan ekspor migas dan non migas. Ekspor minyak mentah turun 33 persen," ungkap Suhariyanto, Selasa (15/10).
Sementara untuk ekspor industri pengolahan turun 3,51 persen menjadi US$10,85 miliar, sedangkan ekspor pertambangan lainnya naik 13,03 persen menjadi US$2,06 miliar.
Dari sisi impor, khusus untuk migas senilai US$1,59 miliar atau turun dari bulan sebelumnya US$1,63 miliar. Sementara, impor non migas sebesar US$12,67 miliar atau naik 1,02 persen dari US$12,54 miliar.
Lebih rinci, kenaikan impor nonmigas terjadi pada barang konsumsi mencapai 3,13 persen menjadi US$1,41 miliar, barang baku/penolong melorot 0,7 persen menjadi US$10,26 miliar, dan barang modal naik 4,8 persen menjadi US$2,59 miliar.
Berdasarkan negara asal impor, peningkatan impor terjadi dari Oman US$32,3 juta, Argentina US$32 juta, dan Belanda US$30,1 juta. Kendati begitu, ada penurunan impor ke China US$358,7 juta, Italia US$156,5 juta, dan Jerman US$116,5 juta.
Secara kumulatif, kinerja impor Januari-September 2019 sebesar US$126,12 miliar. Realisasi itu turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$138,78 miliar. (aud/lav)