Hal itu diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menanggapi data neraca perdagangan yang mengalami defisit US$160 juta pada September 2019. Padahal, bulan sebelumnya surplus US$80 juta.
Hariyadi menduga lesunya kinerja ekspor impor merupakan gambaran dari penurunan daya beli masyarakat. Hal itu yang patut dikhawatirkan karena konsumsi rumah tangga seharusnya menjadi mesin penggerak utama ekonomi Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna memaksimalkan kualitas pertumbuhan ekonomi, ia menilai pemerintah perlu menggenjot lebih banyak lapangan kerja formal. Dengan demikian, produktivitas dan ekonomi masyarakat ikut terkerek. Di sisi lain, ia tidak menampik jika kondisi perlambatan ekonomi dan lesunya perdagangan global juga memicu defisit neraca perdagangan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah agar kondisi ekonomi tidak memburuk.
Ia menilai menurunnya kinerja ekspor dan impor dipicu lesunya industri dalam negeri. Oleh sebab itu, guna mengurangi ketergantungan kepada impor maka pemerintah perlu menggenjot kinerja industri dalam negeri.
"Solusinya adalah kita mesti industrialisasi, bagaimana kita kembangkan industri hulu supaya tidak terlalu tergantung kepada impor juga," katanya.
Sementara itu, ia menyatakan perlu pengembangan pasar ekspor non-tradisional guna mendorong kinerja ekspor. Dengan demikian, ketika negara tujuan ekspor utama sedang goyah, maka ekspor Indonesia tak banyak terpengaruh lantaran memiliki basis pasar ekspor yang luas.
Secara rinci, nilai ekspor turun 1,29 persen dari USD14,28 miliar di Agustus menjadi USD14,10 miliar pada September. Nilai ekspor turun lebih tajam secara tahunan sebesar 5,74 persen.
Di sisi lain, impor naik tipis 0,63 persen dari US$14,17 di Agustus menjadi USD14,26 miliar di September. Namun, impor turun 2,41 persen secara tahunan. (ulf/lav)