Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemerintah menawarkan proyek infrastruktur karena dianggap masih menarik bagi investor. Terlebih, infrastruktur yang ditawarkan menggunakan skema PINA bervariasi.
Salah satu bentuk investasi yang ditawarkan adalah berbasis nonutang, misalnya pembiayaan ekuitas langsung (direct equity financing). Kerja sama investasi ini membuat investor bisa melakukan penyertaan saham kepada kontraktor yang melaksanakan pembangunan proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, bentuk investasi ini tak semata-mata dilakukan demi menjaga porsi utang korporasi, namun agar pasar keuangan di Indonesia semakin dalam.
Selain itu, pemerintah tetap membutuhkan aliran investasi dalam rangka mempercepat penyelesaian infrastruktur meski fokus pembangunan telah bergeser ke Sumber Daya Manusia (SDM).
"Yang lebih mudah sebenarnya pembangkit listrik, bandara, pelabuhan, karena revenue (pendapatan) dalam dolar AS. Kalau jalan tol mereka harus hitung risiko kurs karena (pendapatan) tol dalam rupiah, tapi mereka yang bisa ukur risiko, biasanya langsung masuk," ungkapnya.
Bambang mengingatkan pemerintah membutuhkan investasi untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja Indonesia.
"Kami ingin tidak semua sedikit-sedikit larinya ke APBN dan (keuangan) BUMN," imbuhnya.
Sedangkan per Oktober 2019, PINA sudah memfasilitasi komitmen investasi dengan nilai Rp52 triliun. Realisasi ini setara 61,9 persen dari target perolehan investasi melalui PINA sebesar Rp84 triliun.
Bambang pun meyakini target tahun ini bisa tercapai. Sebab, pemerintah melalui PINA tengah mengurus rencana kerja sama investasi perusahaan asal Kanada ke Tol Cikampek-Palimanan.
"Masih ada lagi beberapa yang kami targetkan sampai akhir tahun, mudah-mudahan mendekati target," pungkasnya.
(uli/sfr)