Defisit Neraca Dagang Tekan Rupiah ke Rp14.166 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 16:45 WIB
Defisit Neraca Dagang Tekan Rupiah ke Rp14.166 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rupiah berada pada posisi Rp14.166 per dolar AS pada Selasa (15/10). Posisi ini melemah 0,15 persen dibanding penutupan pada Senin (14/10) yakni Rp14.140 per per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.140 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.126 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah. Tercatat, rupee India melemah 0,21 persen, ringgit Malaysia 0,06 persen, peso Filipina 0,12 persen, dan yuan China 0,12 persen. Selain itu, pelemahan terhadap dolar AS juga dialami oleh dolar Singapura sebesar 0,09 persen, won Korea 0,01 persen.


Di sisi lain, sejumlah mata uang di Asia menguat terhadap dolar AS, seperti baht Thailand 0,08 persen, lira Turki 0,17 persen, yen Jepang sebesar 0,04 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen.

Di negara maju, pergerakan mata uang terpantau variatif terhadap dolar AS. Misalnya poundsterling Inggris menguat 0,58 persen, sementara dolar Australia melemah 0,13 persen, dan euro melemah 0,02 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai rupiah melemah karena para Investor merespons kesepakatan dagang antara AS dan China pada pekan lalu dengan hati-hati. Kehati-hatian mereka lakukan karena detail kesepakatan dagang tersebut masih belum jelas.

 "Pelaku pasar sadar bahwa 'perjanjian' AS-Tiongkok sebelumnya telah hancur di tengah-tengah kesalahpahaman di antara kedua belah pihak," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (15/10).
[Gambas:Video CNN]Tekanan lain kata Ibrahim juga datang dari data perdagangan China. Data neraca dagang China menunjukkan penurunan impor paling tajam sejak 2016.

Dari sisi domestik, tekanan datang dari rilis data neraca perdagangan September. BPS mencatat neraca dagang Indonesia sepanjang September 2019 mengalami defisit sebesar US$ 160,5 juta.

"Namun mata uang garuda fluktuatifnya masih bisa terkendali dengan baik," ungkap Ibrahim. (ara/agt)