Dengan laporan terbaru ini, artinya IMF telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi global dua kali. Sebelumnya pada April 2019, IMF juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 persen dari prediksi awal pada Januari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.
Penasihat Ekonomi sekaligus Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath menuturkan target tersebut merupakan angka paling rendah sejak krisis keuangan global. Ia mengkonfirmasi jika pertumbuhan ekonomi global melambat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, industri otomotif juga mengalami kontraksi karena standar emisi baru yang diterapkan oleh negara di kawasan Uni Eropa. Berbeda dengan sektor manufaktur dan perdagangan yang cenderung lesu, sektor jasa justru mampu mempertahankan pertumbuhan.
Di tengah sentimen negatif ini, IMF mengatakan kebijakan moneter memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi global. Bank sentral di berbagai negara memberikan pelonggaran moneter untuk mengurangi risiko perlambatan ekonomi global.
"Dalam penilaian kami, tanpa stimulus moneter pertumbuhan global akan lebih rendah 0,5 poin pada 2019 dan 2020," katanya.
IMF memprediksi ekonomi negara maju melambat menjadi 1,7 persen di 2019 dari 2,3 tahun lalu. Pertumbuhan negara maju diproyeksi stagnan tahun depan. Tak jauh berbeda, ekonomi negara berkembang diprediksi melambat menjadi 3,9 persen di 2019 dari 4,5 persen pada 2018. Koreksi ini dipicu perang dagang, ketidakpastian kebijakan domestik, dan perlambatan ekonomi China.
Dalam laporan tersebut, IMF mematok target moderat untuk pertumbuhan ekonomi 2020 yakni 3,4 persen, atau turun 0,2 persen dari proyeksi April lalu. Pasalnya, IMF memperkirakan perang dagang AS-Cina bakal mengurangi tingkat PDB global sebesar 0,8 persen pada 2020.