Ayam dan Rokok Bikin Inflasi 0,08 Persen Minggu Ke-4 Oktober

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 18:34 WIB
Ayam dan Rokok Bikin Inflasi 0,08 Persen Minggu Ke-4 Oktober Ilustrasi Bank Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memproyeksi indeks harga konsumen (IHK) pada pekan keempat Oktober 2019 mengalami kenaikan (inflasi) sebesar 0,08 persen secara bulanan atau sebesar 3,19 persen secara tahunan. Beberapa komoditas yang menyumbang inflasi, yaitu daging ayam ras, bawang merah, dan rokok kretek filter.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan daging ayam ras menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen, bawang merah 0,02 persen, dan rokok kretek filter sebesar 0,02 persen. Sementara, beberapa harga pangan terjadi penurunan harga (deflasi).

"Yang deflasi cabai merah itu 0,06 persen, telur ayam ras 0,04 persen, cabai rawit 0,03 persen, dan tarif angkutan udara 0,02 persen," ujarnya, Jumat (25/10).

Dengan turunnya beberapa harga pangan, Perry optimistis target inflasi di bawah 3,5 persen akan tercapai. Terlebih, BI juga sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak empat kali tahun ini. Ia yakin kebijakan moneter itu bisa membantu laju inflasi hingga akhir tahun.

"Dari pemantauan sampai dengan Oktober 2019 itu harga terkendali, tahun ini insyaallah inflasi di bawah titik tengah sasaran 3,5 persen," terang dia.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi sebesar 0,27 persen pada September 2019. Angka itu berbanding terbalik dengan Agustus 2019 yang terjadi inflasi sebesar 0,12 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan realisasi ini menjadikan inflasi tahun kalender mencapai 2,2 persen hingga September lalu. Kemudian, deflasi ini juga lebih dalam dibanding dari September tahun lalu yang mencatat deflasi 0,18 persen.

"Bisa kami simpulkan inflasi masih terkendali," kata Perry.

Suhariyanto mengatakan deflasi terjadi di 70 kota di Indonesia, sedangkan 12 kota lainnya mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,94 persen dan terendah terjadi di Surabaya sebesar 0,02 persen.




(aud/bir)