Sebut saja Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) John Wempi Wetimpo, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala BPN Surya Tjandra, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo dan Budi Gunadi Sadikin, dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo.
Sebagian besar kementerian itu sebelumnya tak memiliki wakil menteri. Dalam hal ini, Jokowi menambahkan jabatan wakil menteri di Kementerian PUPR, Kementerian ATR, Kementerian BUMN, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka itu, Toto menyarankan agar Menteri BUMN Erick Thohir mengkaji lagi jumlah deputi yang sekarang ada di kementerian. Diketahui, ada tujuh deputi yang membawahi sejumlah sektor perusahaan pelat merah.
"Kalau strukturnya ramping maka penambahan anggaran biaya dari dua wakil menteri tidak akan signifikan [di Kementerian BUMN]," ucap Toto kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/10).
"Jumlah deputi memang perlu disesuaikan. Intinya jenjang organisasi tidak terlalu panjang sehingga ruang untuk kolaborasi, inovasi, dan pengambilan keputusan bisa lebih cepat," terang dia.
Sementara itu, pemilihan Tiko dan Budi dinilai sudah tepat oleh Toto. Menurutnya, latar belakang Tiko sebagai bankir bisa membantu mengelola restrukturisasi perusahaan pelat merah yang bermasalah.
"Kalau Pak Budi dengan pengalaman dan pengelolaan holding di Inalum diharapkan dapat mempercepat proses holding sektoral (di Kementerian BUMN) dan pembentukan super holding BUMN," jelas Toto.
Di sisi lain, Kepala Ekonom DBS Indonesia, Masyita Crystallin berpendapat keberadaan wakil menteri di beberapa kementerian akan membuat pekerjaan rumah selesai lebih cepat. Sebab, menteri bisa membagi pekerjaan dengan wakilnya.
"Prioritas jadi terbagi. Kementerian bisa lebih lincah lagi bergeraknya, tidak semua persoalan di menteri jadinya," kata Masyita.
Kalau pun anggaran belanja pegawai bertambah, Masyita menilainya tak masalah selama kinerja kementerian itu bisa lebih baik. Dalam hal ini, ia menganggap kinerja dari kementerian akan terkerek karena keberadaan wakil menteri.
[Gambas:Video CNN]
"Yang penting output-nya. Ini lihatnya seperti bisnis di perusahaan pada umumnya. Menaikkan anggaran agar pekerjaan lebih fokus," ujar Masyita.
Ia juga berpendapat sistem birokrasi tak serta merta menjadi panjang dengan keberadaan wakil menteri. Pasalnya, posisi wakil menteri di sini untuk membantu menteri.
"Jadi perbaiki kualitas di kementerian itu," pungkasnya. (aud/asa)