TOP TALKS

Tangan Tak Sampai Jadi Wartawan, Suhariyanto Jadi Kepala BPS

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 10:36 WIB
Tangan Tak Sampai Jadi Wartawan, Suhariyanto Jadi Kepala BPS Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu. Ungkapan itu menggambarkan proses jatuh hati Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto kepada dunia statistik.

Tak banyak yang tahu, pria kelahiran Blitar, 15 Juni 1961 Juni ini awalnya bercita-cita ingin menjadi wartawan lantaran ia gemar menulis dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kepiawaiannya dalam menceritakan sesuatu tercermin dari gaya bicaranya yang terstruktur.

Bahkan, karyanya yang berupa cerita pendek pernah diterbitkan di Majalah Sastra Horison. Karya-karyanya juga masuk ke dalam buku kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka "Kisah-kisah Kepahlawanan Perang Kemerdekaan 1945-1949 dan Perang Merebut Kembali Irian Barat: Volume 1".


Namun, nasib berkata lain bagi pria pengagum Soekarno ini. Berkat iming-iming sekolah gratis, ia menempuh pendidikan diploma di Akademi Ilmu Statistik. Setelah lulus dari Akademi Ilmu Statistik, pada 1983, ia mulai meniti karir di BPS sampai sekarang.

Kecintaannya pada statistik mulai tumbuh ketika ia menempuh pendidikan S-2 di University of Guelph, Kanada. Di sana, pria penyuka gudeg ini semakin terbuka dalam melihat manfaat statistik dalam kehidupan sehari-sehari, maupun dalam proses penyusunan kebijakan.
[Gambas:Video CNN]
Paham bahwa statistik kerap menjadi momok. Ia terus mendorong jajarannya untuk menyajikan data statistik yang ramah bagi pengguna. Salah satunya dengan mengawinsilangkan antara seni dan data sehingga menarik untuk disajikan.

Independensi BPS juga terus ia dijaga agar pengguna yakin bahwa data yang disampaikan kredibel dan sesuai fakta.

Seperti apa proses jatuh cinta Suhariyanto terhadap dunia statistik? Berikut petikan wawancara khusus CNNIndonesia.com dengan Kepala BPS Suhariyanto beberapa waktu lalu.

Bagaimana perjalanan karir Anda hingga menduduki jabatan kepala BPS?

Saya masuk ke BPS sejak 1983, sesudah saya lulus dari Akademi Ilmu Statistik. Kemudian, saya melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Lalu, melanjutkan S2 di University of Guelph, Kanada. Setelah itu, melanjutkan S3 di University of Reading, United Kingdom.

Setelah saya kembali, saya mulai merintis karir dari kepala seksi di bagian pertanian BPS. Kemudian, menjadi kepala bagian di bagian analisis. Berikutnya, menjadi direktur di bagian analisis dan pengembangan statistik. Kemudian, menjadi deputi.

Tahun 2016, saya dibujuk teman-teman untuk ikut lelang menjadi kepala BPS. Jaman saya dulu, itu adalah tahun pertama jabatan kepala BPS di lelang terbuka. Waktu itu, 3 kandidat besarnya yaitu saya dari BPS, satu dari Bappenas dan satu dari Universitas Gajah Mada.

Hasil dari tim pemilih akhir yang dipilih oleh Presiden kemudian menentukan bahwa saya menjadi kepala BPS sejak September 2016.


Waktu kecil, apakah pernah terbayang di benak Anda menjadi Kepala BPS?

Enggak pernah sama sekali karena, ketika saya muda, statistik bukan keinginan saya. Sejak muda, saya inginnya menjadi wartawan.

Saya ingin kuliah di publisistik tetapi karena waktu itu tidak ada biaya dan kakak saya hanya mau membiayai saya kalau saya di kedokteran, ekonomi atau hukum, saya pilih Fakultas Hukum UI, dan saya diterima.

Tetapi, ketika saya datang ke Jakarta untuk mulai kuliah di UI, saya melihat Akademi Ilmu Statistik. Pada waktu itu, saya tidak tahu apa Akademi Ilmu Statistik tetapi yang penting gratis.

Kapan pertama kali Anda mulai tertarik dengan ilmu statistika?

Waktu kuliah. Bahkan, waktu kuliah di Akademi Ilmu Statistik pun saya harus bilang mungkin passion (minat) saya kepada statistik agak kurang.

Mungkin, passion-nya timbul sesudah saya mengambil master di bidang statistik di Kanada karena di sana saya melihat bahwa statistik itu betul-betul digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya melihat manfaat yang sangat besar mengenai statistik ketika saya mengambil S2 di Kanada. Sementara, waktu di Indonesia, di Akademi Ilmu Statistik dan saya yakin di universitas cara pengajaran statistik itu terlalu teknis, mengajari rumus sehingga orang berpikir statistik itu sulit dan agak dijauhi.


Hal apa yang membuat Anda berpikir ilmu statistik bermanfaat untuk kehidupan sehari-sehari?

Kalau kita bicara pabrik, di semua pabrik maupun di Indonesia maupun di Kanada, itu sudah diterapkan quality control.

Kalau kita bicara pabrik lampu, ini semua kan pakai rata-rata, median, dan varian.

Produk yang bagus kalau rata-rata tinggi, variasi antar produk kecil sehingga orang jadi percaya untuk membeli produk tersebut.

Di asuransi, statistik juga digunakan karena di sana ada namanya aktuaria di mana harus ada peluang. Di bursa saham, kita perlu memahami statistik untuk membuat proyeksi atau prediksi.

Bahkan, kalau bicara ibu-ibu arisan, kita membicarakan statistik karena itu dikocok yang menggunakan teori peluang atau random sampel.

Jadi, statistik itu bisa masuk di bidang apapun. Itu yang membuat minat saya kepada statistik semakin bangkit.


Apa benar statistik itu sulit?

Saya pikir banyak orang berpikiran statistika sulit itu lebih kepada cara pengajaran yang terlalu kaku saja.

Pelajaran bisa dianggap sulit karena kita tidak suka, menjadi mudah karena kita suka. Dalam hal ini, peranan dari guru atau dosen itu besar sekali bagaimana membuat mahasiswa itu suka statistik.

Salah satu hal yang mungkin perlu diperbaiki sistem pengajaran kita, ketika kita mau bicara statistik, ketika kita membicarakan fisika, membicarakan kimia, apapun.

Saya sendiri tidak suka pelajaran fisika karena pada waktu itu cara guru saya mengajar kok susah banget ya.

Tetapi, kalau cara mengajarkannya lebih kepada manfaat sehingga mahasiswa atau murid-murid tahu manfaatnya mereka akan jauh lebih tertarik. Ketika dia sudah tertarik statistik tidak ada akan menjadi sulit.

Statistik menjadi sulit karena rumus-rumus di statistik ataupun di pelajaran lain, seperti matematika, itu menjadi rumus mati yang tidak diterjemahkan menjadi hidup.


Milenial biasanya tak tertarik dengan ilmu statistik, dan lebih gemar hal-hal berbau digital. Bisa Anda paparkan, apa pentingnya mempelajari ilmu statistik bagi anak muda saat ini?

Di jaman revolusi industri 4.0 statistik menjadi mempunyai peranan yang sangat penting. Ke depan, salah satu karir yang akan banyak dicari itu adalah data scientist yang merupakan gabungan antara statistik dan komputer.

Kenapa begitu? Karena ada big data, data ada di mana-mana. Untuk itu, generasi muda sekarang harus belajar bagaimana men-summary-kan fenomena dari big data ke sana, membuat prediksi-prediksi dan perencanaan.

Jadi,statistik akan menjadi lebih penting. Hanya saja, yang perlu dijadikan catatan, definisi data itu harus diperluas. Data tidak lagi hanya sekedar angka-angka, tetapi bisa dalam bentuk karakter, simbol, foto, peta. Bahkan, suara.

Kalau kita tidak belajar statistik, kita tidak akan bisa merangkum data yang bertebaran di media sosial dan membuat perencanaan ke depan

Apa tugas BPS dan data apa yang paling sulit untuk diperoleh BPS?

BPS itu lembaga non kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Tugas dasar dari BPS adalah mengumpulkan data statistik dasar.

Kalau menengok Undang-undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, data itu sebenarnya ada tiga yaitu statistik dasar, statistik sektoral, dan statistik khusus.

Tetapi, masih ada kekeliruan pemahaman bahwa semua data dikumpulkan oleh BPS. Padahal, tidak. Ada data sektoral yang harus dikumpulkan oleh kementerian. Misalnya, jumlah guru menurut pendikan dan umur jumlah murid, itu dikumpulkan dari teman-teman dikbud. Kemudian, jumlah kriminalitas itu dikumpulkan oleh Polri dan lain sebagainya.

BPS mengumpulkan statistik dasar. Kalau kita lihat data yang paling penting dan selalu digunakan oleh berbagai pihak adalah data pertumbuhan ekonomi, data inflasi, data kemiskinan, ketimpangan, indeks pembangunan manusia. Itu merupakan data strategis yang dikumpulkan BPS.

Kesulitannya apa? Kesulitannya macam-macam. Persoalan utama yang kami hadapi tentu saja masalah geografis. Masalah geografis, misalnya, teman-teman di Maluku dan Papua ketika sampelnya tersebar agak jauh. Kadang-kadang mereka harus menyeberangi pulau untuk melakukan wawancara atau mendaki gunung untuk wawancara.

Ketika kita mengumpulkan data produksi padi menggunakan handphone. Itu koordinatnya sudah dikunci ke manapun mereka harus pergi. Geografis itu merupakan salah satu tantangan utama.

Kedua, responden. Kalau di desa menemukan orang untuk wawancara lebih gampang, tetapi di kota itu karena kesibukan mobiltas sangat tinggi sehingga kadang-kadang sulit menemui responden.

Saat ini, BPS harus berpikir bagaimana mengumpulkan data tidak menggunakan wawancara langsung. Jadi, misalnya, BPS untuk wisatawan kami bekerja sama dengan Telkomsel menggunakan mobile positioning data.

Kami melacak wisatawan dari handphone. Kami juga melakukan survei nanti ke depan juga akan menawarkan lewat web. Kami harapkan partisipasi masyarakat untuk mengisi data.

Kesulitan lain juga bisa terjadi ketika survei yang dikumpulkan lumayan sensitif. Misalnya, kami pernah membuat survei mengenai kekerasan terhadap perempuan. Itu super sensitif.

Untuk bisa menggali informasi itu, pertanyaannya sangat sensitif. Beberapa berkaitan dengan KDRT, kekerasan seksual dan sebagainya. Jadi, untuk mengatasi kesulitan itu, kita minta pewawancaranya adalah perempuan bukan laki-laki karena kalau pertanyaan-pertanyaan yang sensitif perempuan jauh lebih berhasil dibandingkan lelaki ketika meruntut pertanyaan. Lelaki mungkin agak careless.

Dalam 5 tahun ke depan, BPS akan menjadi seperti apa?

BPS akan menjadi semakin penting. Kami dan teman-teman semua berkomitmen untuk menghasilkan satu data berkualitas untuk Indonesia. Data-data yang ada tidak hanya berkualitas tetapi juga jelas konsep, definisi, dan metodologinya.

Tidak ada data versi BPS, data versi kementerian ini dan itu. Karena ke depan harus satu dan data betul-betul dimanfaatkan untuk kebijakan.

Saya paham betul bahwa data BPS kadang-kadang tidak disukai ketika harus menceritakan sesuatu yang buruk tetapi bagi saya justru dari data itu kita harus menarik pelajaran.

Apa yang sudah berhasil dipertahankan tetapi, bagi saya, yang lebih penting lagi, di sana ada pekerjaan rumah-pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan.

Lima tahun ke depan prioritas kami tetap menghasilkan satu data berkualitas untuk Indonesia maju tetapi tentu saja ada pembenahan-pembenahan mengikuti perkembangan zaman.

Sekarang kami sedang melakukan penyempurnaan terhadap tiga hal. Pertama, SDM. Kedua, perbaikan proses bisnis dan, ketiga, IT sebagai supporting.

Kenapa SDM penting? karena saya sangat menyadari dari 16.200 pegawai BPS saat ini 58 persennya itu adalah milenial dan apa yang dimaui milenial itu dari cara penyajian, cara pemahaman dan komunikasi itu berbeda dengan generasi saya.

Itu menjadi perhatian utama saya, bagaimana mengelola adik-adik saya yang gap agak tinggi sehingga mereka nyaman tetap bisa mengekspresikan dirinya sendiri sesuai dengan zamannya. Karena ke depan BPS itu milik mereka bukan milik saya.

Dari sisi bisnis proses, kami tidak bisa terpaku pada cara-cara tradisional. Kami perlu mengadopsi perkembangan zaman. Jadi, misalnya, BPS ini sudah menggunakan big data untuk wisatawan mancanegara.

Kemudian, nanti di dalam sensus penduduk kami menggunakan web. Kami coba ajak partisipasi masyarakat untuk mengupdate datanya sendiri. Karena untuk menghasilkan data berkualitas tidak hanya bergantung kepada BPS tetapi juga responden.

Untuk IT, kami juga sudah membuat enterprise architecture di mana kita harapkan seluruh kedeputian itu nyambung dari perencanaan, uangnya buat apa, kegunaannya seperti apa, bisa dimonitor sehingga ke depan lebih bersih lagi.

Apa momen penting yang menjadi titik balik dari kehidupan Anda?

Kalau titik balik, saya akan ambil ketika saya kuliah S2 di Kanada tahun 1987. Di sana, saya kuliah tetapi saya juga menjadi volunteer (tenaga sukarela).

Setidaknya ada 2 hal yang membuat cara pandang saya berbeda. Dari sisi keilmuan, seperti saya bilang tadi, saya melihat bahwa statistik itu manfaatnya sangat luas. Bahkan, dalam persoalan sehari-hari.

Itu membuat saya makin percaya bahwa statistik itu sangat penting di bidang apapun dan mengubah cara pandang saya terhadap statistiK dari yang tadinya kering dan membosankan menjadi nyata dan betul-betul diperlukan.

Dari sisi pribadi, ketika saya menjadi volunteer untuk menemani penduduk usia lanjut di sana, salah satu pelajaran yang saya bisa tarik dari mereka adalah seringkali kita menyesali apa yang sudah berlalu. Seringkat menyesali.

Padahal, ada kejadian-kejadian di masa lalu yang tidak kita harapkan sudah terjadi. Sementara, banyak orang yang buang waktu dengan berkata 'seandainya-seandainya'.

Dari sana, saya berpikir, yang lalu ya sudah tidak usah dipikirkan lagi. Saya melihat, sisi positif itu membuat hidup jauh lebih gampang bagaimana melangkah ke depan.

Apa hobi Anda?

Hobi saya membaca dan menulis. Kenapa saya ingin menjadi wartawan? Karena sejak kecil saya sering menulis, dimulai dengan cerpen-cerpen.

Cerpen-cerpen saya bukan berdasarkan imajinasi tetapi lebih kepada pengalaman nyata yang kemudian saya olah.

Cerpen saya pernah dimuat di Horison. Cerpen saya masuk koleksi yang diterbitkan di Balai Pustaka.

Tapi itu masa lalu karena sekarang saya untuk menulis fiksi menjadi sulit karena mungkin kebanyakan statistiknya. Tetapi saya nanti ingin kembali ke sana.

Saya juga suka travelling, terutama yang lebih bersosialisasi kepada masyarakat.

Misalnya, kalau saya pergi seperti ke Parangtritis, saya tidak akan memilih hotel yang bagus banget tetapi bagaimana saya memahami, saya diskusi tentang penjual-penjual yang berjualan di pantai. Berusaha memahami betapa hidup mereka itu berat tetapi kerja keras dan optimisme mereka itu terpancar.

Saya lebih menyenangi hal-hal seperti itu. Memahami adat, budaya, dan perilaku mereka.

Siapa pengarang favorit Anda dan karya apa yang paling menginspirasi Anda?

Pengarang favorit yang benar-benar satu pengarang itu mungkin enggak, tetapi banyak buku-buku dari pengarang yang saya suka.

Misalnya, saya suka sekali membaca buku-buku Emha Ainum Najib terutama 99 untuk Tuhanku. Saya suka sekali.

Saya membaca berulang-ulang "Catatan Pinggir" Pak Gunawan Muhamad. Saya suka novel "Pulang" dari Laila S Chudori.
Saya suka "Laskar Pelangi" dari Andrea Hirata.
Saya suka "Saman" dari Ayu Utami.

Saya juga suka buku dari pengarang-pengarang dulu yang sampai saat ini masih saya baca berulang-ulang. Seperti, "Ronggeng Dukuh Paruk" dari Ahmad Tohari dan saya tidak pernah bosan membaca "Robohnya Surau Kami" AA Navis.

Jadi, banyak buku favorit saya dari pengarang yang berbeda karena masing-masing punya gaya.

Saya juga baca novel-novel dari luar. Millenium Trilogy yang The Girl With The Dragon Tattoo. Saya habisin itu tiga novel. Tetapi, terkadang saya juga baca buku mengenai leadership dari John Maxwell.

Kalau ditanya buku favorit saya banyak buku yang saya suka dari pengarang tertentu. Tetapi, saya tidak terpaku kepada satu pengarang karena itu membuat wawasan saya menjadi luas dan saya belajar banyak.

Siapa tokoh idola yang menginspirasi Anda?

Perlu dipahami, saya lahir di Blitar. SD sampai SMA di Blitar. Jadi, sejak kecil sekeliling saya, Bapak, orang tua saya yang tergantung-gantung di rumah itu adalah Pak Karno, Bung Karno.

Jadi saya sering mendengar pidato beliau karena Bapak saya sering mendengarkan tetapi mungkin pengalaman yang membuat berubah adalah ketika Pak Karno meninggal tahun 1970.

Pada waktu itu, saya berumur 9 tahun dan ketika Pak Karno meninggal itu, seluruh rumah di Blitar, termasuk rumah saya membuka pintu seluas-luasnya siapa pun boleh menginap di situ.

Siapapun boleh mandi, siapapun boleh makan. Kebersamaan itu yang pertama kali 'Oh, Pak Karno bisa sampai' Itu yang membuat saya tersentuh dan akhirnya saya banyak membaca buku mengenai Pak Karno.

Bagi saya, Bung Karno itu komplit. Beliau tidak hanya proklamator tetapi juga orang yang menyatukan anak bangsa.

Di sisi lain, beliau darah seninya tinggi sekali. Beliau pernah menulis naskah sandiwara, melukis, kolektor dari pelukis terkenal.
Jadi bagi saya, komplit sekali bagaimana memadukan antara rasa seni dan kepemimpinan beliau yang membuat beliau menjadi unik.

Saya tidak bosan-bosan membaca pidato-pidato beliau ataupun kumpulan bukunya. Bagi saya, itu tidak pernah ada habisnya.

Ke depan, apa lagi yang Anda ingin capai?
Saya kok enggak muluk-muluk ya. Yang ingin saya capai ke depan, saya ingin hidup saya lebih bermanfaat bagi orang banyak dalam bentuk apapun.

Kalau jadi dosen, saya bisa berbagi pengalaman dan itu bermanfaat. Saya akan senang.

Saya senang menjadi dosen tamu di UI, sudah 9 tahun. Saya juga dosen tamu di Akademi Ilmu Statistik.

Kalau kemudian nanti sesudah pensiun saya punya waktu untuk menulis dan dari menulis bisa memberikan pencerahan dan memberikan manfaat, saya juga senang.

Prinsip saya itu saja. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan bermanfaat itu akan membuat saya bahagia. (lav)