Dilansir dari CNN.com, kerugian ini disebabkan oleh banyaknya investasi pada startup teknologi yang besar, namun merugi seperti WeWork dan Uber.
CEO SoftBank Masayoshi Son mengakui kondisi keuangan kuartalan mereka 'mengerikan'. Ia mengakui telah mengambil pelajaran dari jatuhnya valuasi WeWork dan Uber yang memiliki masalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melebih-lebihkan sisi baik Adam dan sering menutup mata ke sisi negatifnya, terutama ketika menyangkut tata pemerintahan," kata Son.
Son pun mengungkap telah belajar dari kasus WeWork bahwa perusahaan pun perlu memperhatikan tata kelola untuk pendiri dan manajemen. Perusahaan pun membutuhkan standar yang jelas untuk itu.
Namun, Son mengungkap dia masih memiliki back-up dari investasi Saudi sebesar US$100 miliar untuk Vision Fund. Investasi tersebut merupakan yang terbesar dan sebagian besar akan digunakan untuk investasi kecerdasan buatan.
Optimisme dan percaya diri Son bisa meyakinkan para investor kaya Arab Saudi untuk investasi miliar dolar pada Vision Fund. Hingga saat ini, Son memiliki ambisi besar untuk berinvestasi pada perusahaan yang diyakini akan mendominasi di masa depan.
Dia menyakini perusahaan yang didorong oleh data dan kecerdasan buatan akan memiliki masa depan yang cerah. Sehingga Son membutuhkan Vision Fund 2 untuk mewujudkan mimpinya tersebut.
Di Indonesia sendiri SoftBank memiliki banyak investasi startup. Belum lama ini SoftBank menyuntik Grab Indonesia sebesar US$2 miliar.
Tahun lalu, SoftBank menyuntik Tokopedia sekitar US$1,1 miliar. Startup asal Indonesia lainnya yang juga mendapat kucuran dana dari SoftBank yakni Moka, CoHive, ShopBack, AloDokter, Modalku dan Ajaib.
[Gambas:Video CNN] (cnn.com/age)