FAO Laporkan Orang Kelaparan Susut di Era Jokowi

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Kamis, 07/11/2019 11:09 WIB
FAO Laporkan Orang Kelaparan Susut di Era Jokowi Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut orang kelaparan menyusut dari 44,1 juta pada periode 2004-2006 menjadi 22,0 juta pada 2016-2018.

Angka itu tertuang dalam laporan bertajuk The State of Food Security and Nutrition in The World, Safeguarding Against Economic Slowdowns and Downturns.

"Setelah penurunan stabil selama beberapa dekade, tren orang kelaparan tidak berubah dalam tiga tahun terakhir (2015-2018). Bahkan perlahan meningkat di Asia," tulis FAO dalam laporannya.

Di Asia, meskipun terjadi kemajuan besar dalam lima tahun terakhir, peningkatan orang kelaparan terus berlanjut. Asia Barat, misalnya, meningkat lebih dari 12 persen sejak 2010 lalu. Sementara, angka terbanyak ada di Asia Selatan.

Dalam laporan tersebut, Indonesia menduduki urutan pertama dengan orang kelaparan terbanyak. Diikuti oleh Filipina sebanyak 13,9 juta orang kelaparan, Kamboja 2,6 juta orang kelaparan, dan Laos 1,1 juta orang kelaparan.


Namun, dibandingkan China dan China daratan, jumlah orang kelaparan di Indonesia masih kalah banyak. Orang kelaparan di China tercatat sebanyak 122,4 juta dan di daratan China sebanyak 121,4 juta.

Sebelumnya, laporan Asian Development Bank (ADB) menyebut 22 juta orang Indonesia masih menderita kelaparan. ADB bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) mengungkapkan hal itu dalam laporan bertajuk 'Policies to Support Investment Requirements of Indonesia's Food and Agriculture Development During 2020-2045'.

Kelaparan yang diderita 22 juta orang tersebut, atau 90 persen dari jumlah orang miskin Indonesia versi Badan Pusat Statistik (BPS) yang sebanyak 25,14 juta orang dikarenakan masalah di sektor pertanian, seperti upah buruh tani yang rendah dan produktivitas yang juga rendah.

"Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak cenderung stunting. Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia menderita kelaparan," terang laporan tersebut dikutip dari laman resmi ADB, Rabu (6/11).

Kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi juga tercatat terus turun. Pada 1975 silam, sektor pertanian masih menyumbang 30 persen. Kemudian, susut menjadi 23 persen pada 1985, dan berlanjut menjadi 15,3 persen pada 2010. Lalu, 13,1 persen pada 2017 lalu.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian menyerap lebih lambat tenaga kerja ketimbang pertumbuhan sektor pertanian. Kemudian, meskipun tren produksi pangan meningkat, tetapi distribusinya tidak merata tersebar di Indonesia. "Kerawanan pangan tetap menjadi masalah," tulis laporan tersebut.

Salah satu buktinya, Indonesia menempati urutan ke-65 di antara 113 negara dengan Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang dirilis Economist Intelligence Unit (The Economist 2018).

Peringkat Indonesia itu terbawah dibandingkan Singapura pada urutan pertama, Malaysia ke-40, Thailand ke-54, serta Vietnam ke-62. "Karena akses untuk mendapatkan makanan di Indonesia cukup rendah," kata laporan itu.

Namun demikian, ADB menyebut bahwa Indonesia dapat mengurangi kasus kelaparan pada 2030 dan mengakhirinya pada 2045. Dengan catatan, RI dapat meningkatkan investasinya di bidang pertanian untuk memodernisasi sistem dan pasar pangan, sehingga lebih efisien.

Selain itu, ADB mengusulkan agar produksi pangan ditingkatkan, sinergi antara investasi dan kebijakan harus menciptakan lebih banyak peluang dan efisiensi dalam mencapai ketahanan pangan bagi masyarakat.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa swasembada pangan, termasuk meningkatkan ketahanan pangan, tidak bisa dilakukan secara instan. "Kedaulatan pangan kita langsung sehari-dua hari balikkan tangan jadi, tidak akan mungkin seperti itu," jelasnya dalam Rakornas dan Diskusi Nasional HKTI pada Maret lalu.
[Gambas:Video CNN] (bir)