"Karena kalau yang dimaksud fiktif itu sesuatu yang enggak ada kemudian dikucuri dana, dan dana nggak bisa dipertanggungjawabkan. Itu enggak ada (desa fiktif)," kata Halim di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (8/11).
"Karena desanya ada, penduduknya ada, pemerintahan ada, dana dikucurkan iya, pertanggungjawaban ada, pencairan juga ada, sehingga saya bingung yang namanya fiktif, namanya bagaimana," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kakak dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin itu sudah melaporkan temuan itu kepada Sri Mulyani.
Sebelumnya, CNNIndonesia.com menelusuri dan memastikan tiga desa yang diduga fiktif itu di Kabupaten Konawe, Rabu (6/11).
Camat Lambuya Jasmin mengatakan dari 9 desa dan satu kelurahan di Kecamatan Lambuya tidak ada nama Desa Ulu Meraka. Hanya ada Desa Meraka. "Tidak ada," kata Jasmin, Rabu (6/11).
Jasmin mengaku bingung sebab undangan yang tertuju untuk Desa Ulu Meraka pernah masuk di kantornya. Surat undangan bersampul warna coklat itu bertuliskan nama lembaga Pusat Pendidikan Keuangan dan Pemerintahan Daerah (PUSDIK-PEMDA) Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri. Alamat pengirim berada di Jalan Kalibaru Barat VII No 5 Kecamatan Cilincing Jakarta.
Kemudian Desa Uepai. Dari sejumlah riwayat desa-desa yang dihimpun, kefiktifan Desa Uepai lantaran daerah tersebut masih tercatat sebagai sebuah desa, padahal sudah dihapus belasan tahun lalu.
Saat itu, dalam wilayah Kecamatan Uepai berdiri 10 desa dan satu kelurahan. Yakni, Desa Ameroro, Tawarotebota, Olo-Oloho, Matahoalu, Langgomea, Rawua, Baruga, Amaroa, Tawamelewe, dan Anggopiu, serta Kelurahan Uepai.
Kemudian, di zaman Bupati Konawe Lukman Abunawas pada 2007 dimekarkan lagi tujuh desa: Desa Tamesandi, Humboto, Morehe, Anggawo, Kasaeda, Panggulawu, Puroda Jaya dan Tanggondipu.
Menurut Camat Uepai, Jasman, Desa Uepai sudah tidak ada sejak berubah status menjadi kelurahan. Kelurahan Uepai pada medio 2007 memekarkan sebagian wilayahnya yang kemudian bernama Desa Tanggondipu.
Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, warga Desa Morehe ini kebanyakan sudah pindah ke desa tetangga, yakni Desa Rawua dan Desa Anggopiu.
Camat Uepai, Jasman mengatakan desa ini pernah memiliki struktur desa dan pernah melakukan kegiatan. Selain ada struktur pengurus desa, di sana juga sudah berdiri sekolah dan rumah-rumah warga semacam pondok-pondok.
Belakangan, desa ini ditiadakan karena sudah tidak ada aktivitas pemerintahan di sana. Menurut dia, warga keluar dari desa itu dengan KTP Morehe sejak 2016 karena berada di dalam area hutan lindung.
[Gambas:Video CNN] (fra/bir)