Iran Dapat Cadangan Minyak 22,2 Miliar Barel dari Ladang Baru

CNN Indonesia | Selasa, 12/11/2019 06:00 WIB
Iran Dapat Cadangan Minyak 22,2 Miliar Barel dari Ladang Baru Ilustrasi. (FAYEZ NURELDINE / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh menyatakan temuan ladang minyak baru hanya menambah cadangan minyak sebesar 22,2 miliar barel.

Sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan temuan di bagian barat daya Iran tersebut akan menambah cadangan minyak Iran hingga 53 miliar. Ia menyebut temuan tersebut sebagai "hadiah kecil dari pemerintah kepada rakyat Iran".

Dilansir dari AFP, Senin (11/11), Zanganeh memperkirakan hanya 2,2 miliar barel minyak atau sekitar sepersepuluh dari potensi cadangan yang dapat diekstraksi. Hal itu lantaran keterbatasan teknologi.


"Mengingat sudah ada 31 miliar barel minyak (di kawasan Iran), jumlah temuan menambah cadangan 22,2 miliar barel," ujar Zanganeh, Senin (11/11).

Kendati direvisi, temuan cadangan minyak Iran baru itu masih jauh lebih besar dari Indonesia. Sesuai data BP Statistical Review 2019, cadangan minyak Indonesia hanya 3,2 miliar barel.

Zanganeh mengungkapkan area yang akan dieksplorasi merupakan kawasan yang terjal dan berbatu. Lapisan minyak diperkirakan sedalam 3,1 kilometer dengan rata-rata ketebalan 80 meter. Untuk itu perlu teknologi untuk menyedot minyak yang terkandung di dalamnya.

Menurut Zanganeh, ladang minyak tersebut membentang seluas 2.400 kilometer persegi. Namun, kawasan tersebut bisa diperluas ke arat barat daya dan timur melalui eksplorasi lebih lanjut.

Sebagai informasi, Iran merupakan salah satu negara pendiri Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Berdasarkan perkiraan BP, saat ini, Iran memiliki cadangan minyak mentah keempat terbesar di dunia dengan nilai mencapai 155,6 miliar barel.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, Iran juga memiliki cadangan gas terbesar kedua terbesar di dunia.

Namun, pengenaan sanksi dari Amerika Serikat (AS) membuat Iran kesulitan mengekspor minyaknya. Sanksi tersebut diberikan usai AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 lalu.
(AFP/sfr)